SEULAWAH RI 001, PESAWAT PERTAMA RI

Dakota RI-001 Seulawah adalah pesawat angkut pertama milik Republik Indonesia yang dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. Untuk selanjutnya menjadi cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama,Garuda Indonesian Airways. Klik untuk baca selengkapnya...

ACEH TEMPO DULU

Album Aceh tempo dulu, klik judul untuk foto-foto jadul lainnya..

KOPI SOLONG, Ulee Kareng, Banda Aceh

Kalo mau cari dan mencicipi Kopi Aceh ya ke Ulee Kareng, begitu banyak orang bilang. Akhirnya saya meluncurlah ke kawasan Ulee Kareng, tepatnya ke Kopi Solong yang cukup legendaris. Tujuan saya kesini adalah ... baca selengkapnya!

MENGAPA HARUS KE ACEH?

Banyak yang bertandang ke Aceh, namun sangat sedikit yang 'benar-benar' ke Aceh. Kira-kira, apa yang pertama sekali terlintas dipikiran Anda ketika mendengar kata Aceh? Syariat islam-kah? Tsunami? Konflik bersenjata? Mie Aceh? Kopi? Atau bahkan ganja?

RESEP MIE ACEH

Ingin tahu bagaimana cita rasa makanan dan minuman Aceh? atau penasaran dengan cita rasa khas mie Aceh yang tersohor seantero nusantara? Klik judul untuk resep mie Aceh..

PAKAIAN ADAT ACEH

Pakaian adat Aceh dilengkapi dengan beberapa macam pernik yang biasa dan selalu dikenakan ketika acara-acara tertentu. Pernik-pernik tersebut antara lain sebagai berikut: .. baca selengkapnya..

SEJARAH RAPAI GELENG

Rapai Geleng dikembangkan oleh seorang anonim Aceh Selatan. Permainan Rapai Geleng juga disertakan gerakan tarian yang melambangkan sikap keseragaman dalam hal kerjasama, kebersamaan, dan penuh kekompakan dalam lingkungan masyarakat.

30 Nov 2011

Sate Matang

Bagi para pencinta kuliner yang Dimanapun anda berada, jangan lupa mampir ke Kecamatan Peusangan, kota Matangglumpangdua (baca: Matang), Kabupaten Bireuen, terletak 12 Km arah timur pusat Kota Bireuen. Perjalanan ke sana memakan waktu 15 menit, apalagi sekarang lalu lintasnya sudah lebar dan mulus.

Adzar (43) salah satu pengunjung tetap sate khas matang mengatakan “Matang memang kota yang sangat strategis dan selalu ramai di malam hari. Pada waktu konflik bercekamuk, Kota Matang tak pernah sepi, karena itu mungkin Matang sering dijuluki kota yang tak pernah mati,”katanya saat ditemui oleh salah satu media informasi beberapa waktu lalu.

“Soal kuliner, Matang sangat terkenal dengan sate tusuk, mau daging sapi atau sate kambing juga ada. Bagi yang menderita darah tinggi, saya sarankan mencoba sate daging sapi deh. Siapa tahu setelah mencicipi lezatnya daging kambing bakar sesaat, Anda harus berbaring di rumah sakit,” tambahnya.

Sate Matang sudah bergema di setiap kota di seluruh Aceh, Medan bahkan Jakarta. Di mana ada masyarakat Aceh bermukim di kota-kota besar di Indonesia, pasti ada gerobak yang bertuliskan “Sate Matang”.

Hmm… nggak sabaran nie pingin menguyah sate. Soalnya, saya sudah lama tidak memanjakan lidah dengan sate Matang. Kalau lama-lama dipendam ngilernya minta apun, bisa-bisa ngences. Memang untuk menikmati sedapnya sate matang yang betul-betul olahan dan bumbu dari Matang, saya mesti pergi ke Matangglumpangdua. Namu untuk menghilangkan rasa ngiler anda akan renyahnya rasa sate matang. Anda bisa mencari di setiap kota-kota besar. Pasti akan anda temui gerobak yang berstikerkan “SATE MATANG”. Selamat menikmati…

===========
Sumber : bungong.wordpress.com

29 Nov 2011

Seribu Jari di Negeri Para Dewa

Grup tari saman binaan Pemkap Gayo Lues ketika tampil pada malam Seni Budaya Sidang Ke-6 Komite Antar-Pemerintah Unesco untuk perlindungan warisan budaya non benda di Nusa Dua, Bali, Jumat (25/11) malam.
======

SEISI ruangan tercekam ketika menggema gumam mistis menderas dari belasan mulut laki-laki muda yang dibalut kerawang gayo lues. Nyaris tak ada suara lain, selain deru gumam yang seolah mengalir dari lekuk pedalaman negeri seribu bukit, Gayo Lues, di kaki Leuser.

Belum habis pesona gumam dalam nomor “rengum” berlalu, para penonton dikejutkan lagi oleh kelebat ribuan jemari yang membentuk konfigurasi tertentu. Telapak tangan kiri dan kanan saling tindih lalu dihentakkan ke dada dalam gerak “gerutup” yang sangat cepat. Melahirkan bunyi unik, persis bunyi tapak ribuan kuda yang sedang berpacu.

Itulah bagian dari pertunjukan Tari Saman Gayo yang diperlihatkan kepada 400 peserta yang berasal dari 137 negara yang sedang mengikuti Sidang Ke-6 Komite Antar-Pemerintah Unesco untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda di Nusa Dua, Bali, Jumat malam, 25 November 2011. Sidang tahunan itu kemudian menetapkan Tari Saman Gayo sebagai warisan budaya dunia yang harus mendapat perhatian dan perlindungan.

Para penari yang masih muda itu berhasil memperlihatkan ketangkasan ber-Saman yang luar biasa. Dibalut baju kerawang gayo yang menyala dengan warna-warna mencolok, pesona para penari itu juga tertumpu pada model rambut yang dibiarkan tergerai, sehingga memberi efek tertentu pada saat seluruh kepala bergerak.

Suraiya Begum NDC dan Shadia Kathun, wakil dari Banglades, tak kuasa menyimpan kekaguman ketika menyaksikan pertunjukan Saman Gayo tersebut. “Sangat indah. Sebuah tarian ekspresif dan dinamis. Meski saya tidak memahami syairnya, tapi saya mampu menikmati pertunjukannya. Tarian yang menyiratkan kekompakan,” kata Suraiya saat diwawancarai Serambi seusai pertunjukan. Suraiya adalah Sekretaris Menteri Kebudayaan.

Rasa kagum juga disampaikan perempuan berkulit hitam dari Uganda, Nauno Juliana Akurunyo. “Saya menyaksikan tarian itu adalah pola perdamaian yang tentu harus mendapat latihan sangat keras dan ulet. Saya kira tarian itu harus tetap dipelihara dan diajarkan tanpa henti kepada generasi muda,” katanya sambil berulang kali menyampaikan pujian.

Saman Gayo memang tarian yang atraktif. Ia terbentuk dari perpaduan beragam gerak yang seolah berlekuk-lekuk bagai bukit. Di tanah asalnya, Gayo Lues, tarian itu biasa dipertunjukan berhari-hari dan bermalam-malam dalam peristiwa “saman bejamu” atau Saman dipertandingkan.

Saman Gayo berasal dari negeri “seribu bukit” Gayo Lues, adalah tarian yang sudah berkembang sejak abad 13—bahkan jauh sebelum itu —dan mampu dipertahankan orisinalitasnya sampai tujuh abad kemudian. Sampai sekarang generai muda Gayo Lues taka pernah berhenti memainkan Saman, sebaga bagian dari kehidupan keseharian.

Tarian ini sebetulnya menyebar di kabupaten-kabupaten yang didiami komunitas Gayo, yakni Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Bener Meriah, Lokop (Aceh Timur) dan Serbejadi (atau Pulau Tiga) di Aceh Tamiang. Tapi komunitas yang paling ramai ada di Gayo Lues, kabupaten yang letak daerahnya berbukit-bukit.

Bisa dicabut
Pengakuan Tari Saman sebagai warisan budaya dunia tak benda bisa dicabut kembali dalam persidangan empat tahun berikutnya, apabila gagal dalam program pelestarian dan promosi. “Setiap empat tahun sekali nanti akan dinilai kembali apakah yang diajukan empat tahun lalu konsisten dilakukan atau tidak. Kalau tidak, ya bisa dicoret kembali,” kata Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Arief Rachman, seperti dikutip BBC.

Pemerintah Aceh dan Pemkab Gayo Lues tentu tidak rela apabila Saman harus dicoret kembali sebagai warusan budaya dunia. Karenanya serangkaian program telah disiapkan untuk itu. Antara lain akan dibangun “Saman Centre” atau Pusat Kebudayaan Saman di Belangkejeren, dan menetapkan tanggal 24 November sebagai “Hari Saman se-Dunia.”

“Saman Centre kelak akan menjadi pusat seluruh informasi dan kegiatan Saman serta menjadi pusat pelatihan bagi tenaga tutor yang akan disebar ke seluruh dunia,” kata Bupati Gayo Lues, Drs H Ibnu Hasyim. Langkah tersebut didukung penuh Ketua DPRK Gayo Lues, HM Amru. “Ini adalah momentum untuk men-samankan dunia,” kata Amru.



++++++++++++++++
Sumber : Serambinews.com

28 Nov 2011

Saring Kopi 4 Jam Nonstop Tutup Festival Kopi Aceh

BANDA ACEH - Atrakasi saring kopi selama empat jam nonstop, Minggu (27/11) malam tadi, menutup acara Festival Kopi Aceh di Taman Sari, Banda Aceh. Festival yang dibuka Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal tiga hari lalu, berlangsung sukses dan meriah.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Banda Aceh, Reza Fahlevi, kepada Serambi melaporkan, para pengunjung sejak festival dibuka hingga malam tadi terlihat cukup antusias. Hampir semua stand yang memamerkan produk-produk kopi, disesaki pengunjung.

Pengunjung juga cukup antusias mengikuti workshop kilat mengenai kopi yang dimeriahkan oleh barista profesional dari Anomali Keumang Jakarta, serta cupping session yang digelar di stand IOM di lokasi acara.

Selain itu, lomba minum kopi panas tercepat dan tebak kopi juga menjadi salah satu daya pada festival yang dihelat dalam rangka Visit Banda Aceh 2011 ini. Para pengunjung dari berbagai kalangan, lokal, nasional dan internasional, selain disuguhi aneka cita rasa kopi Aceh, juga dihibur dengan penampilan 100 musisi. Panitia juga menggelar tausiyah dan parade music religi, pada malam Tahun Baru Islam 1433 Hijriah.

Festival Kopi pertama yang digelar di Banda Aceh itu, juga dihadiri Pandji Pragiwaksono, host provocative dan proactive pada salah satu stasiun televisi lokal, yang juga salah satu pioneer stand up comedy Indonesia. Ngopi bareng Pandji menjadi acara puncak ngopi bareng dengan komunitas pesepeda, model dan fotografer, magician, blogger, serta media sosial di Aceh.

Acara yang menjadi agenda terakhir dari Visit Banda Aceh Year 2011 ini, diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap produk lokal serta menjadi momentum yang baik atas promosi kopi Aceh secara nasional dan internasional.

Sementara itu, Sebelumnya wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal menyaring kopi pada pembukaan Festival Kopi Aceh yang digelar di Taman Sari Banda Aceh mulai tadi malam. Festival yang diikuti 20 peserta dari seluruh Aceh akan berlangsung hingga 27 November 2011.


===============
Sumber :
http://aceh.tribunnews.com/2011/11/26/festival-kopi-aceh
http://aceh.tribunnews.com/2011/11/28/saring-kopi-4-jam-nonstop-tutup-festival-kopi-aceh

20 Nov 2011

Travel Agencies in Aceh

Banda Aceh

PT. Mandiri Travel
Jalan Dr. Mr. Mohammad Hasan
(Ring Road)
Sukadamai – Banda Aceh
Phone; +62651-7559071
Mobile: +6282167202889
E-mail: mandiri_bjm@yahoo.co.id

PT. Travel Nurin
Nurin Building Kav. 1
Jalan Dr. Mr. Mohammad Hasan
(Batoh)
Sukadamai – Banda Aceh 23352
Phone: +62651-636346
Fax: +622651-635456
E-mail: info@travelnurin.com
Website: http://www.travelnurin.com

PT. Mutiara Fajar Travel
Jalan Dr. Mr. Muhammad Hasan
Simpang Batoh – Banda Aceh
Phone: +62651-7559385
Mobile: +6285370328547
E-mail: mutiarafajartravel@ymail.com

PT. Moda Travel
Jalan Dr. Mr. Mohammad Hasan No. 89
Sp. Batoh- Banda Aceh 23245
Phone/fax: +62651-755889
Mobile: +6281269001950
E-mail: modatravel@yahoo.com

PT. A.A Travel
Jalan Dr. Mr. Mohammad Hasan No. 15
Sukadamai – Banda Aceh
Phone; +62651-7414225
Mobile: +628116805052/ +6281360905599
E-mail: ameera_aurelia_travel@yahoo.com

PT. Alsa Travel
Jalan T. Hasan Dek No. 1
Jambo Tape – Banda Aceh
Phone: +62651-23703
Fax: +62651-31275
E-mail: alsatravel@yahoo.com

PT. Zaki Atjeh Travel
Jalan T. Hasan Dek No. 232
Jambo Tape – Banda Aceh
Phone: +62651-7101977
Fax: +62651-33202
Mobile: +6281269868880
E-mail: zakiatjehtravel@yahoo.co.id

PT. Cendana Tour & Travel
Jalan T. Hasan Dek No. 31
Jambo Tape – Banda Aceh 23122
Phone: +62651-638733
Fax: +62651-29123
E-mail: cendanatour@yahoo.co.id

PT. Sam Travel
Jalan T. Hasan Dek No. 47
Sp. Surabaya – Banda Aceh 23249
Phone: +62651- 25665
Fax: +62651-29371

PT. Sam Travel (branch)
Jalan Cik Ditiro No. 117
Sp. Surabaya – Banda Aceh 23249
Phone: +62651-31348
Fax: +62651-31347
E-mail: samtravelaceh@yahoo.com

PT. Nuansa Wisata
Jalan Cik Ditiro No. 99
Sp. Surabaya – Banda Aceh
Phone: +62651-23480
Fax: +62651-23470
Mobile: +6281362949281
E-mail: nuansawisatanusa@yahoo.co.id

PT. MN & D Travel Group
Jalan Sukarno-Hatta No. 7
Ajun – Banda Aceh
Mobile: +6281361963999

PT. Travel Siwah
Jalan. T. Nyak Arief No. 161
Jeulinke – Banda Aceh
Phone/ fax: +62651-7551456
Mobile: +6285225461177
E-mail: siwahtravel@yahoo.co.id
Web: http://www.travel-siwah.co.cc

PT. Hijrah Travel
Jalan Cik Ditiro No. 204,
Sp. Surabaya – Banda Aceh 23249
Phone: +62651-34357/ 741444
Mobile: +628126999000/ +62811683611
E-mail: hijrah_travelbtj@yahoo.com

PT. Nabila Tour & Travel
Jalan T. Imeum Lueng Bata No. 60
Lamseupeung – Banda Aceh
Phone: +62651-7406824
Mobile: +6281360158914
E-mail: nabilatravel_1002@yahoo.com

PT. Rira Tour & Travel
Jalan T. Imeum Lueng Bata No. 62-A
Lamseupeung – Banda Aceh
Phone: +62651-31590
Fax: +62651-31592
Mobile: +6281269969880/ +6281269296800
E-mail: pt_rira@yahoo.co.id

PT. Suwita Tour & Travel
Jalan K. Amin No. 1-C
Jambo Tape – Banda Aceh
Phone: +62651-21677
Fax: +62651-33766

PT. Sabang Tour & Travel
Jalan T. Iskandar No. 32
Beurawe – Banda Aceh
Phone: +62651-34807
Fax: +62651-34808
Mobile: +6285277431415
E-mail: sabangtravel@yahoo.co.id

PT. MT. Tour & Travel
Jalan T. Iskandar No. 18
Beurawe – Banda Aceh
Phone: +62651-34977
Fax: +62651-34988
Mobile: +6281377198700
E-mail: mustari70@gmail.com

PT. Murni Tour & Travel
Jalan T. Iskandar No. 2
Lambhuk Sp. BPKP – Banda Aceh
Phone/ fax: +62651-28898
Mobile: +6281269047706
E-mail: MirzaMurni@yahoo.co.id
Website: http://www.murni.travel.com

PT. Krueng Wayla
Jalan Sri Ratu Safiatuddin No. 26
Peunayong – Banda Aceh
Phone: +62651-22066/ +62651-638777
Fax: +62651-637715
Mobile: +626517409622
E-mail: waylatravel@yahoo.com

PT. Tara Travel
Jalan Sri Ratu Safiatuddin No. 38
Peunayong – Banda Aceh
Phone: +62651-33541
Fax: +62651-635675
Mobile: +62811683709

PT. Kana Tour & Travel
Jalan Sri Ratu Safiatuddin No. 9
Peunayong – Banda Aceh 23122
Phone: +62651-635700
Fax: +62651-7419383

PT. Indo Matha Wisata
Jalan T. Panglima Polem No. 3
Peunayong – Banda Aceh
Phone: +62651-23706
Fax: +62651-635554
E-mail: indomatha@yahoo.com
E-mail: indomatha_wisata@yahoo.co.id

PT. BP Travel
Jalan T. Panglima Polem No. 75
Peunayong – Banda Aceh
Phone: +62651-32325/ 21833
Fax: +62651-637686
E-mail: banda.perdana@yahoo.com

PT. Kembang Tour & Travel
Jalan T. Panglima Polem No. 161
Peunayong – Banda Aceh 23125
Phone: +62651-7413722
Fax: +62651-22662
E-mail: kembang_tour@yahoo.co.id

PT. Sedona Holidays Indonesia
Jalan Sultan Johan No. 3
Merduati – Banda Aceh
Phone: +62651-741935
Fax: +62651-635041
Mobile: +6282160228528/ +6285260486444
E-mail: nelly@sedonaholidaysmedan.com
E-mail: aceh01_sedonaholidaysindonesia@yahoo.com
E-mail: aceh01_sedonaholidaysindonesia@hotmail.com
E-mail: aceh-branch@sedonaholidaysmedan.com

Koetaradja Tour & Travel
Jalan T.W.K. Mohammad Daudsyah No. 108
Peunayong – Banda Aceh
Phone: +62651-27188
Fax: +62651-27288
E-mail: koetaradja_travel@yahoo.com

PT. Nustra Agung Travel
Jalan Diponegoro No. 7-B
Baiturahman – Banda Aceh 34341
Phone: +62651-22026
Fax: +62651-26229
Mobile:+628126907855

PT. Lintas Asia Tour & Travel
Jalan Teuku Umar No. 82
Setui – Banda Aceh
Phone: +62651-7108383
Mobile: +6281269001982
E-mail: lintasasia82@gmail.com

PT. Aceh Utama Tour & Travel
Jalan Teuku Umar No. 311-A
Setui – Banda Aceh
Phone/fax: +62651-41950
Mobile: +62651-7406357
E-mail: acehutama@hotmail.com

PT. Asra Tour and Travel
Jalan Teuku Umar No. 446
Setui – Banda Aceh
Phone: +62651-49596
Fax: +62651-49188

PT. Aira Travel
Jalan Soekarno – Hatta No. 1
Simpang Lampeuneurut
Aceh Besar
Phone: +62651-42251
Mobile: +628126957022/ +6285270708122
E-mail: aira_travel@yahoo.com

PT. Graha Menara Tour & Travel
Jalan Hasan Saleh No. 3
Neusu – Banda Aceh
Phone/fax: +62651-32947
Mobile: +6285277270959/ +628126979222
E-mail: umar@grahamenaraaceh.co.id
E-mail: umarmessa@yahoo.com
E-mail: grahamenara@yahoo.com
Website: http://www.grahamenaraaceh.co.id

PT. Ana Tour & Travel
Jalan Seulawah No. 68
Neusu – Banda Aceh
Phone/fax: +62651-40188
Mobile: +628126990898
E-mail: ana_tourtravel@yahoo.com

PT. Hessa Tour & Travel
Jalan Sultan iskandar Mudah No. 2-3-4
Punge – Banda Aceh
Phone: +62651-45549
Fax: +62651-45548



PT. Ballrose Tour & Travel
Jalan Teuku Umar No. 285-C
Setui – Banda Aceh
Phone/fax: +62651-48282
Mobile: +6285248009921
E-mail: ballrose@asia.com
E-mail: ballrose.holiday@ymail.com
Website: http://www.acehtraveling.weebly.com

PT. Fortuna Tour & Travel
Jalan Tandi III No. 2
Kp. Ateuk Munjeng – Banda Aceh
Phone: +62651-23475
Mobile: +6285260476866/ +6281264043044
E-mail: fortunatravel_11@yahoo.co.id
E-mail: bung4_2004@yahoo.com
E-mail: piepit_86@yahoo.co.id

PT. Khidmatul Ummah Travel
Jalan Tgk. Glee Iniem No. 100-C
Tungkop – Darussalam
Aceh Besar
Phone: +62651-7551487
Mobile: +6281269850753/ +6285297470154
E-mail: khaum.travel@gmail.com

PT. Iskandaria
Jalan Tgk. Imung Lueng Bata No. 7-D
Lamsepeung-Banda Aceh
Phone: +62651-33963
Mobile: +62869413077
Website: http://www.iskandariatour.com

PT. Aceh Dewi Travel
Jalan Tgk. Cik Di Tiro No. 11
Sp. Surabaya – Banda Aceh
Phone/fax: +62651-34577
Mobile: +6282161620566
E-mail: acehdewitravel@yahoo.com

PT. Atrabu Tour & Travel
Jalan Mohammad Jam No. 38/40
Baiturrahman – Banda Aceh
Phone: +62651-33011
Fax: +62651-33317
Mobile: +62819828251
E-mail: atrabutour@yahoo.com

PT. Babussalam Tour & Travel
Jalan Tgk. Chik Di Tiro No. 10
Peuniti – Banda Aceh 23241
Phone: +62651-637879
Fax: +62651-22410
E-mail: babussalam.aceh@gmail.com

PT. Aceh Wing Abadi Tour & Travel
(Aka Awa Travel)
Jalan Dr. Mr. T. Muhammad Hasan No. 35
Sukadamai – Banda Aceh
Phone: +62651-33360
Fax: +62651-33248
E-mail: awa_travel@yahoo.com

PT. Asonanggroe Wisata Tour & Travel
Jalan Dr. Mr. T. Muhammad Hasan No. 47
Sukadamai – Banda Aceh 23249
Phone: +62651-7559330, +62651-7111592
Fax: +62651-33248
Mobile: +628126976020
E-mail: aso_wisata@yahoo.com

PT. Kanaka Mulia Perdana
Jalan T. Panglima Polem,
Komp. Bp.- 4 Lama No. 1
Peunayong – Banda Aceh
Phone: +62651-26572
Fax: +62651-26903

PT. Pola Mas Megapolis
(Aka Pola Travel)
Jalan T. Nyak Arief No. 1
Lamyong – Banda Aceh
Phone: +62651-7555848
Fax: +62651-33377
Sms booking: +6281377063863
E-mail: pt.pola@gmail.com
E-mail: pola_travel@yahoo.com

PT. As-Salam Travel
Jalan Tgk. H. Moh. Daud Beureueh No. 177, Kav. 5,
Kuta Alam – Banda Aceh
Phone: +62651-7124142
Fax: +62651-636937
Mobile: +6281360131111
E-mail: assalambna@gmail.com

PT. Adhi Mulia Travel
Jalan Mesjid Al-Huda No. 2-D
Kp. Laksana – Banda Aceh
Phone/fax: +62651-34678
Mobile: +628126919204
E-mail: pt_adhi_mulia_travel@yahoo.com

PT. AWA International Tour & Travel
Jalan Pocut Baren No. 93
Kp. Keuramat – Banda Aceh
Phone: +62651-638555
Fax: +62651-637555
Mobile: +6285292366555
E-mail: awainternationaltourtravel@yahoo.com

PT. Sardifa Tours & Travel
Jalan Panglima Nyak Makam No. 5
Lampineung – Banda Aceh
Phone: +62651-8056405
Fax: +62651-8056406
Mobile: +628126988331 (Mr. Ilyas)
E-mail: sardifa_travel@yahoo.co.id

PT. Barindo Travel
Jalan Mata Ie No. 33
Keutapang – Aceh Besar
Phone: +62651-46056
Fax: +62651-46058
E-mail: barindo_travel@yahoo.com





Pulau Weh

Evi Travel
PT. Eagle Victory Tour & Travel
Jalan Hasanudin No. 10
Pantai Kasih – Sabang
Phone: +62652-21066/ 22068
Mobile : +6281360604353
E-mail: aceh.tours@yahoo.com
E-mail: evitravel.aceh@gmail.com
E-mail: info@acehtours.com
Website: http://www.acehtours.com



PT. Cherating Holidays Tours & Travel
Jalan O. Surapati,
Kota Atas – Sabang
Pulau Weh
Phone: +62652-21140/ 7010235
Mobile: +6285277478077
E-mail: discovery.sabang@gmail.com
Website: http://www.cherating.co.id

Lhokseumawe

PT. Natari Tour & Travel
Jalan Merdeka No. 25 H
Lhokseumawe
Phone: +62645-45212
Fax: +62645-45451

PT. Jasmine Tour & Travel
Jalan Merdeka Barat No. 74 B
Cunda – Lhokseumawe
Phone: +62645-40221
Fax: +62645-41257
E-mail: jasminetour@yahoo.com

PT. Puspa Travel
Jalan Merdeka Timur No. 100 A
Cunda – Lhokseumawe
Phone: +62645-63006

Langsa

PT. Samera Travel
Jalan Lilawangsa No. 19
Gp. Pb. Tunong – Langsa
Phone: +62641-24705
Fax: +62641-424872
Mobile: +6285361178400/ +6281269312431
E-mail: samera_travel@yahoo.com


========
taken from : InAceh.com

14 Nov 2011

Maestro Seudati Bergelar Geunta

Oleh : Iskandar Ishak

Namanya Abdullah Abdurrahman, tapi dikenal sebagai Syeh Lah Geunta. Geunta atau menggema merupakan gelar yang diberikan Gubenur Ali Hasymi kepadanya

Abdullah Abdurrahman atau yang lebih dikenal dengan panggilan Syeh Lah Geunta merupakan maestro tari Seudati sejati. Sangkin cintanya dengan tarian seudati membuat Syeh Lah Geunta rela meninggalkan sekolah serta memilih tarian ini sebagai jalan hidupnya. Hasilnya, dia telah berulang kali mengelilinggi jagat dengan seudati.

Jika menyebut seudati, maka semua orang Aceh akan menginggat Syeh Lah Geunta. Wujud lelaki kini masih terlihat gagah, dengan postur tubuh yang tegap dan memiliki tinggi 182 sentimeter dengan bobot 74 kilogram, Syeh Lah geunta tidak rela Seudati punah di bumi Serambi Mekkah ini.

Semasa kecilnya, Syeh Lah Geunta ingin sekali menggeluti dan mendalami seudati. Saat itu ia masih meyandang nama Abdullah Abdurrahman. Kini ia akrab disapa Syeh Lah Geunta. Pria yang lahir di Gampong Geulanggang Teungoh, Bireuen pada 10 Agustus 1946, yang kini menetap di Gampong Seunebok Rambong, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur.

Kepada Harian Aceh, sang maestro menuturkan kisahnya. Dulu, bersama kawan-kawan sekampungnya berlatih dan belajar seudati secara otodidak. Mereka berlatih di lahan kosong di antara pohon kelapa yang memang banyak tumbuh di kampungnya.

Semasa duduk dibangku kelas tiga sekolah rakyat alias sekolah dasar, sejak itu Syeh Lah Geunta sudah menggagumi dan tergila-gila dengan tarian seudati. Demi untuk menyaksikan pentas tari tradisional Aceh itu, dia rela menempuh puluhan kilo meter dengan berjalan kaki dari kampungnya demi untuk menonton tari seudati.

Sangkin fanatiknya, Syeh Lah Geunta semasa kecilnya, saat menonton tari seudati. Ia selalu berada dan berdiri di tempat paling depan panggung untuk menyaksikan para penari beraksi, tari seudati tidak dapat dipisahkan dengannya. Semakin populernya nama aslinya Abdullah tidak sebutkan lagi, karena Seudati sehingga nama Syeh Lah Geunta Lebih dikenal dan populer. Karena julukan tersebut merupakan pemberian Gubernur Aceh Ali Hajmy. “Beliau langsung yang memberikan nama itu kepada saya, sehingga nama asli Abdullah banyak dilupakan orang, “ ungkap Abdullah.

Syeh Lah Geunta bukan lah seleberitis kondang atau aktris masa sekarang yang terlihat parlente, ia hanya lah seorang anak kampung yang sederhana dengan kegigihan semasa kecilnya. Ia telah mempertontonkan serta menunjukan kebolehannya tari sudatinya keberbagai pentas internasional, seperti Jepang, Belanda, Malaysia, Australia, Hongkong, Spanyol dan Amerika Serikat.

Kendati demikian Syeh Lah Geunta tetap saja tampil dengan sederhana, dia tetap bangga meski dijuluki sebagai seniman kampung. Kini usianya meski sudah memasuki 65 tahun sang maestro seni tradisi Aceh tetap masih terus mengeluti tari seudati dan tak bisa dipisahkan dengan Seudati.

Kenang Syeh Lah Geunta, kelompok Seudatinya waktu itu dikenal dengan julukan Syeh Lah Aneukmiet. Suatu hari pada tahun 1963, kelompok Syeh Lah Aneukmiet diundang berpentas untuk menunjukan kebolehannya di depan Gubernur Ali Hasymi. Saat itu Ali Hasymi berkunjung ke Bireuen untuk meresmikan SMA N 1 Kota Bireuen.

Kelompok Syeh lah Aneukmit masa itu berpentas di Hotel Murni. Hasymi, terpesona melihat penampilan Syeh Lah Aneukmit. Sampai-sampai sang Gubernur meminta Abdullah bersama kawan-kawannya tampil lagi setelah pertunjukan ulang tersebut dan akhirnya Sang Gubernur menawarkan dua gelar, Syeh Lah Keumala dan Syeh Lah Geunta. Saya lebih memilih gelar yang kedua. “Dia menjelaskan, Geunta atau Genta dalam bahasa Indonesianya bisa berarti lonceng atau bisa juga diartikan dengan gaung,“ ungkap Abdullah.

Dengan sederet kebolehan dan kelebihannya, syeh Lah Geunta akhirnya mampu menembus pentas kesenian nasional dan internasional. Sang Maestro kerap kali tampil di Jakarta serta sudah beberapa kali tampil di manca negara.

Pada tahun 1991 Syeh Lah Geunta dan anggota kelompoknya melanglang buana di seluruh negara bagian Amerika Serikat selama 45 hari. Dari kota ke kota kelompok Syeh Lah Geunta berhasil membuat penonton terpukau dengan mempertontonkan gerakan tari seudati.

Yang paling mengesankan sehingga tak bisa dilupakan bagi Syeh Lah Geunta yakni ketika dia dan anggotanya diundang tampil berpentas di Sevilla, Spanyol pada tahun 1992. “Saya sangat bangga ketika itu sempat berjalan-jalan diberbagai kota Spanyol untuk menyaksikan peninggalan kerajaan Islam,” kenangnya. Tak kurang sudah lebih dari 10 negara sudah dia datangi untuk mempertontonkan keindahan gerak tari tradisional Aceh Sudati tersebut.

Dari sana dia dan anggotanya mampu meraih beberapa penghargaan yakni The Bessies Award New York Dance And Performance pada tahun 1991 di Amerikat Serikat dan Appreciation Award pada tahun 1992 di Sevilla, Spain serta masih banyak berbagai penghargaan internasional dan nasional lain yang diperolehnya.

Seudati Media Berdakwah

Sering orang mempertanyakan tentang nama Seudati. Apalah arti sebuah nama begitulah istilahnya, akan tetapi makna nama pada tari tradisional Aceh memiliki kekhususan tersendiri. Nama Seudati terkait erat dengan pegembangan agama Islam di Nanggroe Aceh Darussalam (Aceh saat ini-red).

Dari berbagai sumber tertulis antara lain pencerminan Aceh yang kaya budaya dan pendapat seiring berkembang di masyarakat menyebutkan kata Seudati berasal bahasa Arab “ Syahadatin atau Syadati “ yang bermakna doa pengakuan atau pengakuanku. Mengucapkan syahadat adalah syarat pertama bagi seseorang yang akan memeluk agama islam yaitu mengaku tak ada tuhan melainkan Allah dan Muhammad utusan NYA.

Sumber lain yang kurang populer akan tetapi dalam forum diskusi maupun seminar sering juga diungkapkan bahwa kata Seudati yang bahasa Arab berarti saudara-saudara atau tuan-tuan dan bapak-bapak, seperti lazimnya terdengar diucapkan oleh orang yang sedang berpidato. Pendapat ini berdasarkan pendirian Syeh lah Geunta kepada seni Seudati. Menurut pandagan juga seudati adalah semacam pementasan ajaran agama dan perubahan sosial.

Nama lain yang pernah berkembang jauh sebelum sebutan seudati untuk jenis tari adalah Saman. Orang yang menarikan tari ini disebut Meusaman. Menurut Tgk Abdullah Syafii seorang tokoh masyarakat Kandang Kabupaten Pidie, bahwa tari ini lebih tepat disebut Saman.

Sekitar tahun lima puluhan, nama Saman untuk jenis ini lebih dikenal dengan nama Seudati, terutama di kabupaten Aceh Utara, yang di daerah tingkat II ini terdapat tokoh-tokoh Seudati antara lain Almarhum Syeh Ampon Mae yang lahir di Mulieng pada tahun 1932 dan Almarhum Syeh Ampon Bugeh yang lahir di Geureugok, Ganda Pura pada tahun 1929 silam.

Sebagaimana kita ketahui kata Saman berasal dari bahasa arab yang berarti delapan. Angka delapan ini dikaitkan/diperkuat karena penari pada tarian berjumlah delapan orang. Jumlah delapan penari ini tidak bisa lebih maupun dikurangi, karena keberadaan penari yang delapan orang amat erat kaitannya dengan posisi/komposisi tari bahkan jika kekurangan seorang penari saja tarian ini tidak dapat dimainkan.

Di samping penari yang delapan orang, dilengkapi dengan seorang penyanyi yang mengumandangkan irama lagu tertentu dengan syair-syair yang serasi dengan babakan/bagian tari. Pada bagian awal yang disebut saleum, irama lagu dan syair yang dikumandangkan syahi.

Jika ditinjau dari sudut nama tari tradisional ini (Seudati/Saman) yang sama-sama berasal dari bahasa Arab, dapat diperkirakan bahwa tari ini lahir pada zaman setelah masuknya agama Islam di Aceh, sehingga para ulama dan pegembang agama Islam memanfaatkan media ini sebagai salah satu media dakwah pengembangan agama Islam.

Seorang ulama yang dikenal dengan panggilan Tgk Seumatang di kampung Busu, Pidie, beliu selain memimpin Pasantren juga seorang penyair. Dalam bahasa Aceh disebut Peuentok Haba, adalah tokoh pencipta syair yang bernuansa Islami.

Syair yang penuh makna inilah yang selalu dilantunkan pada masa permulaan berkembangnya tari seudati di Aceh. Syeh Nek Rasyid salah satu tokoh seudati yang pada tahun 1930 telah berperan sebagi Aneuk Syahi, mengungkapkan bahwa beliu mengetahui Saleum pada Seudati (bagian awal seudati) dulunya dilakukan dengan cara duduk, lalu mengalami perubahan dengan level berdiri seperti yang dikenal dewasa ini.

Syeh Ampon Mae, tokoh seudati yang dikenal luas di Aceh, bahkan luar daerah dan disegani oleh syeh-syeh yang lain, beliu adalah Syeh yang membawa perubahan seudati baik gerak, kekayaan komposisi dan irama lagu.

Peran serta para ulama (Tengku Pasantren) pada awal kelahiran seudati, baik sebagai sarana hiburan santri maupun metode pengembangan dakwah Islam. Hal itu dapat terlihat dari banyaknya bahasa arab dalam syair-syair hikayat seudati. Seperti ucapan Lahe Le Hala Bagura Hem Halaa Elehala, menurut tokoh-tokoh Seudati terdahulu hikayat ini adalah penguasan dari bahasa arab yaitu Lahaula Wala Illa Billahil Aliyill Azim.

Masih banyak kata-kata yang sejenis yang tidak dimengerti artinya akan tetapi terdengar spontanitas dari pemain seudati maupun di ucapkan aneuk Syahi terlepas dari berbagai pendapat tentang latar belakang seudati, maupun tentang penamaan tari ini. Seudati atau saman, akan tetapi pada akhir tahun 1972 khususnya semenjak Priode Pekan Kebudayaan Aceh Ke-2 tarian ini lebih dikenal dengan penamaan seudati.

Di sisi lain dengan tidak mengabaikan penamaan tari ini sebutan Saman, kiranya nama Seudati dewasa ini lebih populer dan dikenal luas, sedangkan nama Saman atau tari Saman dikenal sebagai tari tradisional yang berasal dari tingkat II Aceh Tenggara, khususnya perwakilan Blang Kejeren dari etnik Gayo yakni tari yang dimainkan oleh kaum pria dengan cara duduk berlutut dan berbanjar dalam satu shaf (garis horizontal).

Syeh-syeh seudati yang sangat terkenal sejak tahun 1950-an antara lain, Syeh Ampon Mae dari Aceh Utara, Syeh Nek Rasyid dari Bireuen, Syeh Ampon Bugeh dari Geurugok, Syeh Ampon Muda dari Sigli, Syeh Maun Kunyet dari Lung Putu, Syeh Suh Pandak dari Peusangan, Syeh Hasyem Naleung dari P. Nalueng, Syeh Puteh Rajangan dari Pidie dan Tengku Syah Midan dari Pidie. Dari kesemua tokoh Seudati terkenal di masa lampau tersebut kini mereka telah meninggal dunia.

Untuk itu Syeh Lah Geunta Sang Maestro Seni Aceh tetap semangat untuk menghidupkan seudati. Syeh Lah Geunta tidak mau seudati terkubur sebelum ia sempat mewariskan kepada anak-anak Aceh. Dia, lelaki yang hampir seluruh hidupnya dipersembahkan untuk Seudati, kini dengan kondisi dan usianya yang tak muda lagi dan staminanya mulai melemah, sang maestro tetap akan terus memperjuangkan tari seudati agar anak Aceh tahu apa itu tari seudati.

Sumber : Harian Aceh

13 Nov 2011

Lhok Mata-Ie bay

Taking our cue from a tip by VT-er Rinjani, we set out to find Lhok Mata-Ie. This is a bay on the peninsula west from Banda-Aceh, part of Peukan Bada district. As we found out the greater part of the district consists of relatively unspoiled rain-forest.
The owner of our rental car told us to go direction Ujong Pancu. Almost at the end of the road we spotted the Ujong Pancu Information Center (UPIC). This turned out to be an activity of local youth (Remaja Pecinta Alam Indra Purwa, short REPALA INPRA) to promote nature tourism in the area, under supervision of a local NGO, the Lamjabat Foundation.

We made an appointment for a day trip hiking to Lhok Mata-Ie bay. This proved to be an easy walk of less than an hour. The trail is easily found without a guide, provided someone wants to point you to where it starts - across a fenced field. On a weekday, when it is deserted, the bay should be ideal for a private picnic and some snorkeling. As we came on a Sunday, many locals made the short walk with us, both male and female. When some of the latter decided to take a dip into the sea fully dressed, the men discreetly left the water. But when Helen wanted to change into her modest western swimsuit, our guide prevented her from doing so citing local custom. So, if you are a woman and want to go swimming here, avoid the holidays or bring 'muslim' swimming apparel (i.e. long sleeves and trousers) .

Near the end of the trail there is a clean water source. And close to the beach one can climb into a small cave.

The fee for two guides was Rp 200,000 (January 2011); guide only, bring your own food and snorkeling gear.

See also our next tip: Ujong Pancu Nature Tourism.

Address: Jalan Hamzah Fansuri, Ujong Pancu, Gampung Lampageu, Peukan Bada district.

Directions: From town take Jalan Iskandar Muda to Ulee Lheue and turn left (south) at the mosque. Pass the Banda Water Boom and after one km turn right (west) into the Jembatan Lamteh road. This reconstructed road through wetlands with replanted mangroves leads to Gampung Lampageu and beyond it to Ujong Pancu. Distance from town 12 km.

Read more: http://www.virtualtourist.com/travel/Asia/Indonesia/Aceh_Special_Region/Banda_Aceh-1223610/Things_To_Do-Banda_Aceh-TG-C-1.html#tip=2150576#ixzz1dcgK1Put


=========
Source : virtualtourist.com

12 Nov 2011

“Lampuki” Arafat Nur, Novel Terbaik KLA 2011


ARAFAT NUR, salah seorang penulis Aceh paling produktif kembali meraih penghargaan bidang sastra yang tergolong fenomenal. Kali ini untuk novel ‘kontroversi’-nya; Lampuki.

Lampuki mendapatkan anugerah Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2011 untuk kategori fiksi. Keberhasilan Arafat mendapatkan penghargaan bergengsi itu diumumkan oleh tim juri KLA 2011 di Atrium Plaza Senayan, Jakarta, Rabu 9 November 2011. Selain semakin mengukuhkan dirinya sebagai salah seorang penulis terbaik di jagad sastra nasional, Arafat juga berhak mengantongi uang tunai Rp 50 juta dari panitia KLA.

KLA 2011 mengumumkan dua kategori pemenang, yaitu kategori puisi diraih masing-masing oleh Avianti Armand (Perempuan yang Dihapus Namanya) dan Nirwan Dewanto (Buli-buli Lima Kaki). Sedangkan untuk kategori fiksi diraih Arafat Nur (Lampuki).

Novel Lampuki ternyata mampu mengalahkan empat karya penulis kawakan lain yang sebelumnya masuk lima besar bersama Arafat, yaitu Remy Sylado (Hotel Prodeo), Cok Sawitri (Tantri, Perempuan yang Bercerita), Seno Joko Suyono (Tak Ada Santo dari Sirkus), dan Okky Madasari (86).

“Saya senang meraih penghargaan ini. Namun saya lebih senang lagi jika Lampuki bisa dibaca oleh banyak orang. Ini tujuan saya menulis novel,” kata Arafat Nur kepada Serambi di Lhokseumawe, Kamis (10/11).

Novel Lampuki, seperti dilansir sejumlah media dan dibenarkan oleh Arafat, banyak menuai hujatan dari pembaca. Hujatan itu umumnya disuarakan oleh orang-orang yang merasa tersindir oleh muatan cerita dalam novel ini. Bahkan, kata Arafat, ada yang menilai Lampuki ‘nyerempet-nyerempet’ karya cabul.

“Saya membiarkan saja mereka yang menghujat karena mereka tidak mengerti. Mereka yang menghujat tidak memahami isi Lampuki. Mereka menghujat juga karena judul yang dianggap luncah,” kata Arafat Nur sebagaimana pernah dikutip The Atjeh Post. “Selain yang menghujat, tak sedikit pula yang memberikan apresiasi dan pujian,” lanjut Arafat.

Memang, ada sesuatu yang tak biasa pada Lampuki, seperti rangkaian kalimat yang ada di awal novel ‘kontroversi’ itu. “Pertemuan dua bukit itu menyerupai tubuh manusia telentang, dengan kedua sisi kakinya merenggang, terkuak serupa selangkang.”

Lampuki, menurut Arafat bercerita tentang kerumitan sebuah kampung ketika Aceh sedang bergejolak. “Terlalu ngeri mengingatnya, apalagi menceritakan satu per satu kejadian yang masih kental terekam dalam ingatan,” kata Arafat.

Ketika novel yang juga meraih hadiah DKJ 2010 itu dibedah di Pustaka Rumah Cahaya Banda Aceh, bulan lalu, juga diangkat berbagai sisi menarik Lampuki, di antaranya banyak menggunakan simbol, seperti Si Kumis untuk Ahmadi, Si Rupawan untuk Jibral, Si Pesek untuk para tentara dari Jawa (Paijo, Sukiman) dan lain-lain. “Ini sesuatu hal yang tidak bisa menginspirasi dalam sastra,” ujar Mohammad al Azhir, Pengurus Forum Lingkar Pena Aceh yang berperan sebagai narasumber saat bedah novel tersebut.

Lampuki juga tergolong berani. Seperti tersurat pada kalimat berikut; “Oleh sebab itu pula, alam perkampungan Lampuki sekarang lebih hijau dan penduduknya semakin terbelakang, miskin, kumuh, sehingga watak mereka yang asli semakin tampak; pemalas, nyinyir, kasar, suka memaki, pemberang, dan cepat naik darah. Namun, ketika menghadapi para tentara, tubuh mereka membungkuk-bungkuk, meringkuk, dan kepala mereka merunduk seperti sahaya hina, budak yang tak ada harga.

Keberanian seperti untaian kalimat di atas hanya memungkinkan jika penulisnya dari daerah setempat, seperti Arafat Nur. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh narasumber yang membedah novel tersebut, “Orang luar yang berani menulis kelemahan sebuah suku, pasti sudah sakit jiwanya dan riwayatnya tidaklah panjang.


============
Sumber : serambinews.com
foto : google images

8 Nov 2011

Riwayat Para Pendiri Negeri Idi

Tak banyak literatur tentang Negeri Idi yang kini menjadi pusat ibu kota Kabupaten Aceh Timur. Tulisan H M Zainuddin dalam Tarich Aceh dan Nusantara sedikit memberi jawaban.

Menurut H M Zainuddin, riwajat negeri Idi di zaman purbakala sangat gelap. Pada masa dahulu kemungkinan Idi masuk ke daerah Kerajaan Peureulak. Penghuni kawasan Idi tempo dulu hanya kaum nelayan saja.

Kemudian dalam buku, Singa Atjeh, yang juga karya H M Zainuddin (1957) disebutkan bahwa nama Idi bermula dari kata “Ma ie dhiet” yang kemudian dalam perlembagannya tinggal disebut Idi saja.

Selain itu kata H M Zainuddin, dalam riwayat perjalanan Marco Polo dalam abad XIII antara negeri Peureulak dan Pasai, terdapat satu bandar yang bernama Basma. Tetapi tidak diketahui yang mana negeri itu sekarang.

Setelah dibuka bandar Pulau Pinang oleh Raffles dalam abad XIX, kira-kira sejak tahun 1805, Idi jadi ramai karena kedudukan Kuala Idi di selat Melaka setentang dengan teluk Pulau Pinang dan Seberang Perai, maka kemajuan hubungan lalu lintas laut terjadi. Keramaian semakin bertambah setelah Terusan Suez (Suez Kanal) dalam tahun 1869, maka bandar Pulau Pinang jang telah mendjadi pusat Pasar dagang antara bandar-bandar kecil di Tanah Atjeh (Sumatera). Hasil-hasil lada diekspor dari pelabuhan-pelabuhan sepanjang pesisir Aceh ke Pulau Pinang dan Singapura dengan kapal-kapal dari perkongsian Inggris dan Belanda.


Dalam perkembangan pelayaran inilah negeri Idi dan sekitarnya yang dahulu tidak begitu dikenal kemudian menjadi daerah singgahan kapal-kapal untuk mengangkut lada, sehingga pelabuhan Kuala Idi menjadi maju.

Mereka yang Membangun Idi
Masih menurut H M Zainuddin, sebuah sumber yangdidaptakannya yakni sahibul hikayat T Syahbandar Suleiman, ada beberapa orang yang berperang membangun Kuala Idi menjadi pelabuhan yang maju.

Ketika perdagangan rempah-rempah sudah dilakukan melalui Kuala Idi ke semenanjung Malaya, datang beberapa orang yang mengkoordinir perdagangan tersebut, diantaranya : Panglima Perang Nyak Sim dari Blang Me, Teuku Itam yang dikenal sebagai Panglima Muda Sikeling, dan Tok Nale dari Gampong Blang.

Awalnya meraka datang dengan perahu membawa puat untuk mencari ikan di perairan Idi. Tapi dari usaha mencari ikan saja tidak cukup, mereka kemudian membuka Seuneubok untuk menaman berbagai jenis tanaman yang laku dijual ke luar negeri.

Panglima Perang Njak Sim mendjadi pemimpin rombongan itu, ia pada mulanya memegang jabatan Panglima Besar dari T. Muda Njak Beueng Uleebalang Blang Me.
Tok Nale, membuka lahan dengan menebas hutan di daerah Kuta Batee yaitu di daerah rumah T Chik Idi Daudsjah sekarang.

Panglima Muda Sikeling, membuka lahan di daerah Rambung di bagian timur stadion Idi sekarang. Sementara T Itam yang berasal dari daerah Kuta Baroh Negeri Muereudu membuka lahan di Blang Seukuci. Lalu T Buket Batee yang berasal dari Pidie membuka lahan di Keude Dua dengan mengangkat Peutua Nyak Se sebagai Peutua Seuneubok yang mengurus perladangan.

Setelah itu kemudian datang pula Said Idrus yang membawa orang-orang dari Aceh Besar ke Idi juga untuk membuka kebun. Diikuti pula oleh orang-orang dari Pidie yang dibawa oleh T Bukit Batee, dan orang-orang dari Pasai yang dibawa oleh T Itam yang membuka ladang di Blang Seukuci.

Dinamani BlangSeukuci karena waktu mulai menebas hutan untuk membuka ladang, T Itam bermimpi melihat sebuh guci dalam blang (sawah-red). Guci itu kemudian ditemukannya terkubur adlam tanah, tapi ketika hendak diambil guci itu hilang masuk ke dalam tanah.

Saat ramai-ramai membuka perkebunan tersebut, Panglima Nyak Sim pernah disambar halilintar, tapi ia tidak apa-apa. Belakangan diketahui kalau dia memiliki ilmu kebal. Setelah tak mempan disambar petir, namanya mulai diperbincangkan, hingga ia menjadi terkenal dan disegani banyak orang. Pembukaan perkebunan dan ladang itu membuat kawasan Idi bertambah ramai. Apalagi setelah orang-orang dari negeri Pidie, Pasai, Peusangan dan Aceh Besar kembali datang.

Sementara Tgk Di Buket keturunan Said Idrus membuka ladang di Gampong Baro dekat stadion sekarang. Ladang juga dibukanya mulai dari Buket Pala hingga ke perbatasan Idi Cut. Pembukana lahan itu dilakukan olej T Cut Lambo ayah dari T Usman Idi Cut. Kemudia di bagian utara, perkebunan dibuka oleh T Digureb ayah dari Banta Giureb. Lalu ke selayan Dama Pulo dibuka lahan oleh Thk Paya Raman.

Setelah banyak orang yang membuka perkebunan, maka diadakanlah musyawarah Seuneubok, yaitu mufakatnya para peladang untuk mementukan jenis tanaman apa yang harus ditaman serentak yang bernilai jual tinggi ke luar negeri. Saat itu diputuskan untuk menaman lada. Karena tak ada bibit lada di Idi maka diutuslah beberapa orang untuk pergi ke negeri Pidie dan Aceh Besar mencari bibit lada.

Beberapa tahun kemudian, Idi menjadi salah satu daerah penghasil lada di Aceh. Orang-orang dari luar Idi semakin banyak yang datang, hingga membuat daerah itu menjadi ramai. Apalagi setelah lada dari Idi diekspor ke Pulau Pinang, Malaysia.

Karena Idi semakin maju, maka Uleebalang Peureulak jadi marah karena Kuala Idi merupakan batas kiri masuk ke negeri Peureulak dan bagian kanannya menjadi pintu masuk ke Julok, maka terjadilah peperangan. Uleebalang Julok dan Peureulak sama-sama berhasrat untuk menguasai Idi yang sudah maju dalam bidang perkebunan.

Tapi saat itu T Panglima Prang Nyak Sim sudah memiliki banyak pengikut, sehingga mampu melawan seranandari Julok dan Peureulak. Usai peperangan itu didirikanlah Keude Idi sebagai pusat perdagangan, yang sekarang menjadi Kota Idi ibu kota Kabupaten Aceh Timur.

Sementara orang-orang lain seperti Panglima Kaum Blang Kabu dari Blang Me, T mlaim Suloe yang berasal dari Pidie, diangkat menajdi penasehat T Panglima Prang Nyak Sim karena kecakapannya.

Menjalin Hubungan dengan Sulthan Aceh
Ketika T Panglima Prang Nyak Sim meninggal dunia, ia digantikan oleh anaknya T Ben Guci, kemudian adiknya, T Panglima Banta diangkat menjadi panglima perang. Untuk menjamim kemanan di Idi dari serangan ulebalang sekitarnya, mereka sepakat untuk menjalin hubungan langsung dengan Sulthan Aceh.

Beberapa orang diutus untuk menghadap Sultan Aceh. Delegasi dari Idi itu terdiri dari T Panglima Blang Kabu, T Malim Suloe, T Itam Blang Seukuci, T Tihi Ben Guci dan ibunya H Ma Rampang asal Buloh. Delegasi ini diantar oleh Panglima Perang Besar T Muda Cut dari Meureudu sampai dipertemukan dengan Sultah Aceh, Sulthan Ibrahim Mansur Syah (1841 – 1870 M).

Oelh Sulth Aceh kemudian mengangkat T Chik Ben Guci menjadi Uleebalang Idi dan kepadanya diberikan cap sikureung, sebagai stempel sah kerajaan. Ketika mereke kembali ke Idi dan itu diketahui oleh Ulebalang Julok dan Simpang Ulim, kedua uleebalang itu bertambah marah, karena Idi sudah menjadi daerah ulebalang tersendiri. Maka perang pun kembali terjadi.

Untuk menghadapi serangan dari dua uleebalang tersebut, T Chik Ben Guci menjalin hubungan dengan uleebalang Blang Me, T Muda Angkasah. Atas anjuran T Muda Angkasah pada akhir tahun 1871 dikirim beberapa orang ke Riau untuk membangun kerja sama dengan Pemerintah Kolonial Belanda yang sudah berkuasa di sana. Utusan yang dikirim ke Riau itu adalah Tok Pang Kaum Kabu, T Malim Suloe, T Itam. T Muda Angkasah sendiri menjadi pimpinan rombongan itu.

Di Riau mereka mengikat tali persahabatan dengan Pemerintah Belanda. Bebrapa lama sesudah itu datanglah orang Belanda ke Idi dan mendirikan benteng di Kuala pada 17 Mei 1875 memakai bendera Belanda. Waktu itu Idi bertambah ramai, karena terlalu banjak penghasilan lada, dengan kapal-kapal : Pigu, Hok Kwaton dan yang mengangkut lada ke Pulau Pinang.

Pada satu waktu terdjadilah perang Gureb atau perang T. Di Bukit, yang bermula dari perselisihan kecil antara orang-orang Pasai dengan Aceh Besar. Orang Aceh Besar mengatakan sama orang Pasai : Pasai sikin brok: dan karena itu orang Pasai marah lalu masuk ke kedai-kedai, siapa saja yang ditemuia disuruh sebut breueh, kalau tidak bisa sebut breueh lalu diamuk dan akibatnja banyak orang Aceh Besar yang meniggal, karena logat bicaranya orang Aceh Besar mudah ditandai.

Hal itu membuat T. Paya Uleebalang Tanjung Seumanto marah dan menuntut balas, maka terdjadi perang antara T Paya dan T. Chik Idi. T Chik Idi membuat Kota di bukit Leusong. Kapal (seukuna ) T. Paja Raman yang bernama Djikasi dan Seukana Djambi, dirampas oleh orang Idi, oleh sebab itu T. Paya Raman kalah lalu lari ke Aceh Besar.

Mula-mula T. Paja Raman ditolong oleh Keujruen Julok, tapi karena kemudian melihat Idi sudah lebih kuat, maka Julok pun beralih mendukung Idi. Sesudah kalah T. Paya Raman, maka negeri Tandjung “Seumanto” diberikan kepada T. Muda Angkasah. Kemudian benteng Belanda di Kuala dipindahkan ke Benteng Arun juga ditempatkan rumah dan kantor Controleur.

Bandar Idi makin bertambah ramai karena banyak hasil lada dan Gouvernemnt Belanda, banyak memeberi bantuan kepada T. Chik Ben Guci, sehingga diberikan satu tanda kehormatan Nederlandsche Leeauw. Hasil pelabuhan waktu itu dibahagi dua dengan T. Chik Idi.

Meninggalnya T. Chik Ben Gutji, diangkat anaknya yang tertua T. Chik Hasan Ibrahim dan selama T. Chik Hasan Ibrahim mendjadi Uleebalang Idi, pengahasilan lada makin bertambah banjak sampai 5000 kojan, (± 200.000 pikul), karena T. Mat Said yang datang dari Meulaboh sudah memasukkan banjak orang, jaitu 186 Peutua dengan hutang pangkal sendiri tatkala masih hidup T. Chik Ben Gutji. Sesudah T. Hasan Brahim pindah ke Pulau Penang diangkat adiknja T. Chik Muhammad Hanafiah sebagai pengantinya.


=======
Sumber : blog bang Iskandar Norman

4 Nov 2011

Kopi Solong, Ulee Kareng, Banda Aceh



Warkop Jasa Ayah - SOLONG
Ulee Kareng-Banda Aceh

"Kalo mau cari dan mencicipi Kopi Aceh ya ke Ulee Kareng", begitu banyak orang bilang. Akhirnya saya meluncurlah ke kawasan Ulee Kareng, tepatnya ke Kopi Solong yang cukup legendaris. Tujuan saya kesini adalah untuk membeli oleh-oleh kopi Aceh, sekaligus mencicipi kopi langsung di "sumber"nya, setelah sehari sebelumnya menikmati kopi di Warung Kopi Chek Yuke. (YUKE=UK=Ulee Kareng, hehehe)

Ya, penyajian kopi yang khas melalui saringan dari kain yang bentuknya mirip kaus kaki, lalu menuangkan kopi itu berpindah-pindah dari satu ceret ke ceret yang lain, dapat kita saksikan dengan jelas di Warung Kopi SOLONG ini ataupun warung-warung kopi lainnya di kawasan Serambi Mekah ini. Kualitas kopi dan proses penyajian itu terus dipertahankan oleh para pengelola Warung Kopi ini yang sudah berdiri sejak 1974. Setelah selesai menikmati kopi saatnya membungkus bubuk kopi Ulee Kareng ini untuk buah tangan kerabat di rumah.

Dikemas secara sederhana, Kopi Solong - Ulee Kareng ini dijual dalam 3 kemasan, yaitu kemasan 1/4 kg (Rp. 17.000,-), 1/2 kg (Rp. 33.000) dan 1 kg (Rp. 65.000). Mahal? Relatif... Bagi saya harga ini sebanding dengan kenikmatan rasa yang didapat, walaupun saya sendiri bukan penggemar fanatik kopi. Makanya di rumah, saya lebih senang membuat kopi sanger (kopi susu). Cukup didihkan air segelas, masukkan kopi aceh ini ke dalam air yang masih mendidih di atas kompor, diamkan beberapa saat. Angkat, tuang ke dalam gelas sambil disaring, tambahkan gula dan susu kental manis. Terasa banget bedanya....

Kita juga bisa melihat proses penggilingan kopi yang terletak di bagian belakang Warung Kopi Solong ini, Kopi Jasa Ayah - Ulee Kareng. Dengan mesin yang sederhana, bubuk-bubuk kopi ini terus diproduksi. Konon biji kopinya sendiri merupakan biji kopi yang sudah dikeringkan dalam jangka waktu sangat lama, dan tidak menggunakan campuran lain lagi selain sedikit gula. Ini yang mengakibatkan rasa dan kualitas kopi Ulee Kareng dari Jasa Ayah ini tetap terjaga. Ke Aceh? Harus mampir ke Ulee Kareng


===========
Sumber tulisan dan foto : http://www.banyumurti.net/2010/07/kuliner-124-kopi-solong-ulee-kareng.html

3 Nov 2011

RESEP MASAKAN GULE THI BOH PANAH

Gulai Daging Kambing & Sapi (Aceh)

Bahan:

250 gram daging kambing
250 gram daging sapi
150 gram kelapa parut
10 butir bawang merah, iris tipis
5 siung bawang putih, iris tipis
1 ibu jari jahe, iris tipis
2 batang serai memarkan
200 gram nangka muda, potong-potong, rebus
1½ liter air

Haluskan:


8 buah cabai merah
3 cm kunyit
1 sdm ketumbar sangrai
Garam secukupnya


Cara Membuat Resep Masakan Gule Thi Boh Panah:

Potong-potong daging kambing dan sapi dengan ukuran yang sama. Sisihkan. Sangrai kelapa parut sampai kecokelatan. Giling / Tumbuk sampai halus dan berminyak (poyak/ulhe)
Campur daging kambing dan sapi bersama dengan poyak (ulhe), bersama bawang merah, bawang putih yang diiris dan jahe. Masak di atas api kecil sampai daging berair dan menyerap bumbu.
Beri air dan potong nangka. Masak sampai air menyusut dan daging matang. Angkat.

Untuk 4 Orang



==========
Sumber : resepmasakanmu.com

Terima Kasih sudah berkunjung! jangan lupa isi buku tamu ^_^ Alhamdulillah! berkat dukungan kawan-kawan pecinta blogger semua, Blog ini meraih JUARA 1 dalam lomba blog Visit Banda Aceh 2011 yang diadakan oleh DISBUDPAR provinsi Aceh