SEULAWAH RI 001, PESAWAT PERTAMA RI

Dakota RI-001 Seulawah adalah pesawat angkut pertama milik Republik Indonesia yang dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. Untuk selanjutnya menjadi cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama,Garuda Indonesian Airways. Klik untuk baca selengkapnya...

ACEH TEMPO DULU

Album Aceh tempo dulu, klik judul untuk foto-foto jadul lainnya..

KOPI SOLONG, Ulee Kareng, Banda Aceh

Kalo mau cari dan mencicipi Kopi Aceh ya ke Ulee Kareng, begitu banyak orang bilang. Akhirnya saya meluncurlah ke kawasan Ulee Kareng, tepatnya ke Kopi Solong yang cukup legendaris. Tujuan saya kesini adalah ... baca selengkapnya!

MENGAPA HARUS KE ACEH?

Banyak yang bertandang ke Aceh, namun sangat sedikit yang 'benar-benar' ke Aceh. Kira-kira, apa yang pertama sekali terlintas dipikiran Anda ketika mendengar kata Aceh? Syariat islam-kah? Tsunami? Konflik bersenjata? Mie Aceh? Kopi? Atau bahkan ganja?

RESEP MIE ACEH

Ingin tahu bagaimana cita rasa makanan dan minuman Aceh? atau penasaran dengan cita rasa khas mie Aceh yang tersohor seantero nusantara? Klik judul untuk resep mie Aceh..

PAKAIAN ADAT ACEH

Pakaian adat Aceh dilengkapi dengan beberapa macam pernik yang biasa dan selalu dikenakan ketika acara-acara tertentu. Pernik-pernik tersebut antara lain sebagai berikut: .. baca selengkapnya..

SEJARAH RAPAI GELENG

Rapai Geleng dikembangkan oleh seorang anonim Aceh Selatan. Permainan Rapai Geleng juga disertakan gerakan tarian yang melambangkan sikap keseragaman dalam hal kerjasama, kebersamaan, dan penuh kekompakan dalam lingkungan masyarakat.

31 Jul 2011

The History of Aceh

Aceh, at the northwestern end of Sumatra, came into contact with the outside world as early as the sixth century AD. Chinese chronicles of that time speak of a kingdom on the northern tip of Sumatra named Po-Li. Several Arabic writings of the early ninth century, and later inscriptions found in India mention the area. In 1292, Marco Polo, on his voyage from China to Persia visited Sumatra and reported that on the northern part of Sumatra there were as many as six trading ports including Ferlec, Samudera and Lambri. It is ironic that this area is presently one of the least known of Indonesia.

Islam is reported to have reached Aceh between the seventh and eighth centuries AD and the first Islamic kingdom, Perlak was established in 804 AD. Then followed Samudera Pasai in 1042, Tamiah in 1184, Aceh in 1205 and Darussalam in 1511. In this year the Portuguese captured Malacca and many Asian and Arabic traders sought to avoid the Malacca Strait and called instead on Aceh's port, bringing wealth and prosperity. Aceh's dominance in trade and politics in northern parts of Sumatra began, reaching a climax between 1610 and 1640.

With the death of Sultan Iskandar Thani in 1641, Aceh's decline began. The British and Dutch both started to vie for influence. In 1824 the London Treaty was signed, giving the Dutch control over all British possessions in Sumatra in return for a Dutch surrender of their establishments in India and an abrogation of all claims on Singapore. The Dutch fought a long drawn out struggle in their attempt to subdue the Acehnese. The Aceh War, which lasted intermittently from 1873 to 1942, was the longest ever fought by Holland and cost the Dutch more than 10,000 lives. This struggle has stamped a deep imprint on the Acehnese outlook and mentality.
The era of industrialization arrived, and with it has come a more open attitude towards things alien. Visitors should keep in mind, though, that the Acehnese take their religion, their manners and their morals seriously.



***********
Source : Indonesia-Tourism.com

30 Jul 2011

Dokarim, Pengarang Hikayat Prang Compeuni

Hikayat adalah sastra Aceh yang berbentuk puisi selain jenis panton, nasib, dan kisah. Bagi orang Aceh hikayat tidak berarti hanya cerita fiksi semata, tetapi juga berisi hal-hal yang berkenaan dengan pengajaran moral dan kitab-kitab pelajaran sederhana, yang ditulis dalam bentuk sanjak. Bagi orang Aceh mendengarkan atau membaca hikayat merupakan hiburan yang utama, terutama sebagai bentuk hiburan yang bersifat mendidik. Dalam sastra Melayu, yang disebut hikayat adalah karya sastra yang berbentuk prosa. Di Aceh, uraian tentang perang sabil disajikan dalam bentuk hikayat. Meskipun demikian, beberapa di antaranya ada yang disajukan dalam bentuk prosa.

Pemakluman perang serta serangan-serangan yang dilancarkan oleh pihak Belanda mengakibatkan Dalam (istana) Aceh jatuh ke pihak Belanda pada tanggal 24 Januari 1874, setelah pada serangan pertama April 1873 gagal karena dilanda kekalahan. Belanda menyangka bahwa dengan menguasai Dalam dan sebagian daerah Aceh Besar serta dengan secarik kertas proklamasi sudah cukup untuk membuat negeri Aceh yang lebihnya tunduk kepada Belanda. Yang terjadi adalah perlawanan Aceh bertambah meningkat.

Tuanku Hasyim dan para pemimpin sagi di Aceh Besar menjelaskan kepada pemimpin-pemimpin Aceh yang lain. Dalam suratnya yang tertanggal 18 April 1874 kepada Imum Chik Lotan, raja Geudong, Pasai, Aceh Utara, Tuanku Hasyim bersama Sri Muda Perkasa Panglima Polem, Sri Muda Setia dan Sri Setia Ulama, menulis antara lain sebagai berikut : “…Demikianlah halnya, maka negeri yang sudah kebinasaan empat mukim, pertama Lheu dan Masijid Raya, Masijid Lueng Bata dan Gigieng dengan Lhok Gulong dan takluk setengah mukim orang Meuraksa, maka lain daripada itu Insya Allah Taala tiada ubah kepada Allah dan Rasul melainkan melawan dengan sekuat-kuat melawan siang dan malam, hatta tinggal negeri Aceh sebesar-besar nyirupun melawan juga, demikianlah pakatan orang tiga sagi dan ulama-ulama dan haji-haji dan sekalian muslimin, maka sekarang pun jikalau ada yakin saudara kami akan Allah dan Rasul dan akan agama Islam mendirikan syariat Muhammad dan bersaudara dengan kami semuanya dalam Aceh maka hendaklah saudara kami melawan dengan sekuat-kuat melawan mudah-mudahan terpelihara syariat Muhammad agama Islam dan nama agama bangsa Aceh adanya.”

Surat senada juga ditulis oleh pemimpin lain. Pada bulan Desember 1877, Teungku Muhammad Amin Dayah Cut Tiro menyerukan agar barang siapa yang yakin akan Allah dan Rasul hendaklah berperang sabil ke Aceh Besar. Rakyat dianjurkannya untuk berpuasa tiga hari, membaca Quran dan mengadakan kenduri, memberi sedekah untuk menolak bala serta bertobat jika telah melanggar syariat Islam.

Dari kedua surat itu tampaklah adanya usaha untuk mempersiapkan orang Aceh supaya melakukan aksi kolektif berdasarkan keyakinan agama dan ditopang dengan dasar moral yang tinggi.
Dari kalangan pemimpin agama, terdapat misalnya Teungku Nyak Ahmad dari Gampong Cot Paleue, Pidie, mengubah karya sastra yang digolongkan dalam Hikayat Prang Sabil, yang isinya menyeru kaum muslimin untuk berperang melawan kafir Belanda berdasarkan keyakinan agama Islam. Hal itu seperti dijelaskan oleh Teungku Nyak Ahmad dalam hikayatnya adalah : soe prang kaphe lam prang sabi, niet peutinggi hak agama, kalimah Allah agama Islam, kaphe jahannam asoe nuraka, sabilullah geupeunan prang, Tuhan pulang page syeuruga, ikot suroh sampoe janji, pahala page that sampurna. (Yang memerangi kafir di medan sabil, niat meninggikan hak agama, kalimah Allah agama Islam, kafir jahannam isi neraka, Sabilillah dinamai perang, Tuhan berikan akhirnya surga, mengikuti suruhan sampai ajal, pahala nanti sangat sempurna.

Pada masa perang Belanda Hikayat Prang Sabil dibaca di dayah-dayah, di meunasah-meunasah atau di rumah-rumah ataupun di tempat lainnya sebelum orang pergi berperang. Di Aceh di daerah yang diduduki Belanda orang membaca hikayat perang secara sembunyi-sembunyi. Untuk menyebarkan isinya tidak hanya disampaikan dengan membaca, tetapi naskah hikayat itu disalin berkali-kali dan diusahakan tersebar ke pelbagai pelosok tanah Aceh.

Melalui penyebaran ideologi perang sabil, para ulama berusaha menggugah rakyat menjadi lebih dinamis dalam menghadapi musuh. Strategi yang dijalankan adalah menumbuhkan kemauan keras untuk berperang yang berlandaskan agama Islam. Dari itu timbullah keberanian yang memungkinkan orang bersedia menempuh penderitaan guna mempertahankan prinsip-prinsip hidup. Di samping itu timbul pula kebencian yang tiada tara kepada musuh dan kecintaan yang mendalam kepada agama dan bangsa.

Usaha yang sejajar diperankan pula oleh sekelompok cendikiawan yang mahir dalam sastra. Sebagian dari mereka adalah pembawa pantun dan hikayat yang mempunyai fungsi menghibur masyarakat tanpa membaca teks. Salah seorang di antaranya adalah Dokarim. Ia berasal dari Keutapang Dua, Mukim VI, Sagi XXV Mukim Aceh Besar. Hasil karya Dokarim yang terkenal adalah Hikayat Prang Compeuni, berisikan tindakan-tindakan kepahlawanan Aceh dalam perlawanan terhadap Belanda. Selama bertahun-tahun ia menyampaikan hikayat gubahannya itu. Bahan-bahan yang sudah terpatri dalam ingatannya tidak pernah sama benar dengan yang pernah dibawakan sebelumnya. Di sana-sini ada yang dikuranginya, adapula yang ditambahkannya dengan bahan-bahan lain dari waktu ke waktu sesuai dengan bahan yang diperolehnya dari saksi-saksi mata. Oleh Snouck Hurgronje menyuruh salin Hikayat Prang Compeuni dari ucapan Dokarim sendiri, walaupun sebelumnya sudah terdapat sebuah fragment yang disuruh salin oleh uleebalang.

Dokarim sebelumnya adalah seorang pengarah pertunjukan sadati dan perintang waktu sejenisnya, serta pembawa acara dalam pesta-pesta perkawinan. Ia sangat ahli dan mahir dalam berpidato dan pengetahuannya yang luas tentang bahasa tradisional dalam prosa maupun puisi, dan pantun di samping tentang upacara adat.

Contoh Hikayat Prang Compeni :

Pada masa nyan raja that adee,
Hana seunabee hukoom that seunang
Meuneukat murah reundah bukon lee
Are pih sabee nibak timbangan

Sigeunap uroe kapai jiteuka
Jak maniaga nggroe suloothan
Muwatan peunooh jiwoe ngon jiba
Rakyat that muqa nibak masa nyan

Kapai di bumoe di nanggroe Cina
Geunap uroe na troh kapai dagang
U Banda Aceh jadeh jiteuka
Keudeeh u Daya nanggroe keuluwang

Meusyeuhu meugah ban saboh doonya
Trooh u Ierupa nama meuguncang
Teuma teupikee raja Beulanda
Aceh meurdeehka jikeumeung jak prang

Meunan ka leumah jisah lam dada
Raja Beulanda jieek gurangsang
Jipeuduek rapat pakat panglima
Pulo Sumatra jikeuheundak guncang

Raja Kuneng masa nyan raja
Sangat leupah kha hana soe lawan
Oh saree habeeh bandum meusapat
masa nyan deelat phoon buka kalam

geutanyoe bandum jinoe tabeudoh
Aceh tareuloh nanggroe tajak prang
Gata Rasid’en seureuta Uboh
Tatimang beujroh sabda lon tuwan

U Banda Aceh jadeh tateuka
Rakyat dum taba dengon siresan
Padum nyang rakyat nyang kuasa
Cuba takira wahee kapitan

Teuma jiseuoot jisamboot sabda
Lamong ribee sa sidadu sajan
Teuma oh lheuh nyan laeen takira
Tame lom tantra meribee hujan.


ditulis oleh : Sudirman, peneliti Balai Pelestarian Sejarah & Nilai Tradisional (BPSNT) Aceh.




***************
Sumber : plik-u.com

Buletin el-Asyi, Aset Berharga Aneuk Nanggroe

oleh : Azmi Abubakar


Buletin el-Asyi merupakan buletin tertua dalam ranah mahasiswa Indonesia Mesir yang selalu menarik untuk dikupas kembali. Semenjak kelahirannya tahun 1991, media milik masyarakat Aceh di Mesir ini terus berbenah perlahan. Ini semua adalah berkat kerja keras para kru, dedikasi mereka yang tinggi kepada el-Asyi, soliditas dan kekompakan mereka patut di apresiasi. Berkat kerja keras itulah buletin el-Asyi mampu bertahan di umurnya yang ke 20 tahun.

20 tahun perjalanan el-Asyi tersebut bukanlah waktu yang singkat, Suka duka bersama el-asyi telah dirasakan oleh generasi-generasinya, mengejar deadline, kesibukan reportase sampai kejelian mengedit tulisan bersama menjadi proses pembelajaran tersendiri bagi segenap kru.

Karena itu, butuh puluhan bahkan ratusan halaman untuk menulis pengalaman panjang buletin el-Asyi secara rinci. Selanjutnya penulis berusaha untuk memaparkan sekilas perjalanan buletin kebanggaan masyarakat Aceh Mesir ini, sejarahnya, dan berbagai pernak-pernik yang dimaksud. Semoga menjadi wawasan lebih bagi generasi penerus tercinta, dan menjadi ajang nostalgia bagi generasi-generasi terdahulu.

el-Asyi lahir berkat kesadaran kolektif mahasiswa Aceh Cairo tahun 1990. Awalnya berupa mading yang bertajuk kebebasan opini, berisi berbagai macam tulisan dari warga KMA. Karena mading tak lagi mampu menampung berbagai jenis tulisan, sehingga segera melahirkan ide untuk melahirkan sebuah buletin. Tepatnya pada tanggal 1 Januari 1991 ide tersebut berwujud nyata, buletin el-Asyi edisi pertama berhasil diterbitkan. Pimred pertama kala itu adalah DR. Fakhrur Ghazi, Doktor sastra Arab, Universitas Al-Azhar Mesir.

Nama el-Asyi sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘orang Aceh’. Dari arti ini dapat dikonotasikan bahwa el-Asyi ini cerminan fikrah putra-putri Aceh yang belajar di Mesir. Pada perkembangan selanjutnya el-Asyi menjadi satu-satunya buletin yang mampu bertahan, sebenarnya ada beberapa buletin lain milik KMA Mesir yang muncul setelah el-Asyi namun tak bisa bertahan lama akibat berbagai faktor. Eksisnya el-Asyi tersebut tak terlepas dari soliditas para kru, adanya pengkaderan kru dan adanya inovasi kreatif dan ide cemerlang untuk menjadikan el-Asyi tetap diminati dan dinanti kehadirannya oleh pembaca.


Pasang Surut el-Asyi

Adalah suatu hal yang dimaklumi jika sebuah buletin mogok dalam hal penerbitan. Demikianlah pada umumnya yang dialami oleh buletin-buletin yang dikelola oleh Masisir khususnya pada tahun 1991. Begitu juga yang terjadi pada el-Asyi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan proses penerbitan tersendat masa itu, masa belajar menghadapi ujian, dan banyaknya para kru yang berangkat haji. Maka tidaklah mengherankan jika edisi ke tiga el-Asyi baru terbit setelah 10 bulan kemudian. Tepatnya 16 November 1991.

el-Asyi terbit dua kali dalam sebulan (dwi mingguwan) biasanya terbit tiap tanggal 6 dan 16, namun melihat kenyataan yang ada dilapangan, akhirnya el-Asyi merubah kebijakan tersebut. Kini el-asyi terbit sekali dalam sebulan dengan tetap memperhatikan waktu-waktu khusus ujian.

Ketika tsunami terjadi, el-Asyi juga sedikit mengalami penurunan, biasanya dalam setahun, 5 sampai 6 el-Asyi bisa diterbitkan, namun tahun itu hanya 3 buah el-Asyi yang sanggup diterbitkan. Hal ini karena sejumlah kru el-Asyi diamanahi menjadi pengurus posko tsunami dari KMA sehingga pekerjaan mereka terbagi.

Tsaurah (revolusi) yang melanda Mesir beberapa bulan lalu juga telah meyebabkan tersendatnya penerbitan el-Asyi. Sebagian faktornya seperti kekurangan para kru karena evakuasi juga masalah keamanan yang belum menentu saat itu.


Perubahan dan Perbaikan

el-Asyi mulanya hanya terdiri dari 4 halaman yang masih memakai mesin tik yang sangat sedehana. Hal itu tentu diseuaikan dengan situasi dan kondisi pada saat tersebut. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya tekhnologi serta informasi, el-Asyi terus memperbaiki diri. Hasilnya halaman el-Asyi telah bertambah, cover yang dulunya tak berwarna sekarang menjelma menjadi cover lux penuh warna berkat desain layouter setia. Begitu juga dengan tulisan-tulisan, terus diperbaiki secara perlahan.

Selain itu, el-Asyi juga berubah secara stuktural. Sebelum tahun 2003, el-Asyi merupakan badan otonom dalam kepengurusan KMA yang bisa bergerak secara leluasa. Namun, saat Syura Bil Muhasabah KMA pada tahun 2003, terjadi perombakan besar dalam AD/ART KMA. Salah satu keputusan pada SBM tersebut adalah, penghapusan organisasi dan badan otonom dalam tubuh KMA. Otomatis el-Asyi ikut terkena imbasnya. Maka, pada tahun kepengurusan Tgk.Husni Mubarak, el-Asyi berada dalam tanggungjawab departemen Bakat dan Seni.

Karena dirasakan kurang optimal dan dirasa kurang komunikatif, seakan el-Asyi masih bidang otonom, maka pada tahun 2004 saat kepengurusan Tgk.Arif Rahmatillah, el-Asyi telah berada dibawah bidang garapan departemen Publikasi (bidang baru dalam tubuh KMA) yang khusus bergerak dalam pembinaan dan pempublikasian karya-karya anggota KMA, khususnya dalam kreatifitas menulis.

Periode tahun 2010/2011 el-Asyi kembali merekrut kru-kru baru yang penuh semangat. Para kru dengan segenap kemampuannya itu mencoba untuk bergerak secara perlahan, ide-ide besar dari senior yang duluan berkecimpung sangat membantu dalam setiap kali penerbitan. el-Asyi di tahun 2010-2011 juga telah mengalami beberapa perubahan, diantaranya penggabungan kembali jabatan ketua Publikasi dan Pimred el-Asyi setelah setahun sebelumnya ada pemisahan jabatan, mengingat peran ketua departemen dan pimred saling berhubungan. Penambahan rubrik baru yang diberi nama mimbar dakwah dan rubrik hikayat. Pada periode 2010-2011, el-Asyi juga mengikutsertakan seluruh seluruh anggota departeman Publikasi dalam setiap rapat el-Asyi untuk mewujudkan sinergisitas antara anggota yang membidangi departemen Publikasi maupun el-Asyi sendiri.


Haba dan Geuma

Dalam perjalanan selanjutnya, el-Asyi juga membidani lahirnya 2 buletin sederhana. Jika el-Asyi diterbitkan tiap sebulan sekali, maka kedua buletin sederhana ini hadir sesuai situasi dan kondisi.



a. Haba el-Asyi


Seperti namanya, buletin ini khusus diterbitkan oleh el-Asyi sebagai aksi kampanye dan solidaritas KMA terhadap peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi di Nanggroe. Peristiwa besar dan bersejarah apapun yang sedang terjadi di Aceh coba dikupas dan diulas dalam buletin ini. Tentunya disampaikan dalam konteks kita sebagai mahasiswa yang merupakan agent of change.

Dalam perjalanannya, Haba el-Asyi telah 6 kali terbit dengan tema dan ulasan yang cukup urgen. Masalah DOM yang terjadi di Aceh selama kurun waktu 10 tahun menjadi permasalahan pertama yang diangkat oleh buletin ini. Selanjutnya, pada edisi ke-6, musibah besar yang membuat Aceh mendunia-Tsunami- menjadi berita yang memang harus dianalisa.

Berganti tahun, berganti juga kepengurusan yang menimbulkan berbagai kebijakan. Edisi ke-6 tersebut mengakhiri sementara sepak terjang Haba el-Asyi. Sampai kini belum ada kepastian kapan Haba el-Asyi akan terbit lagi.



b. Geuma El-Asyi


Diterbitkan pertama sekali pada bulan Ramadhan 1428 H/ 2004 M. Buletin ini terbit mulanya hanya untuk pengganti sementara jika el-Asyi tidak dapat diterbitkan karena sesuatu dan lain hal. Namun kemudian, hal ini bergeser sedikit demi sedikit. Geuma el-Asyi tidak hanya dijadikan sebagai penjaga komunikasi dengan pembaca saja, Geuma el-Asyi juga terbit apabila ada keadaan yang menuntut pembahasan lebih intens.



Tema yang diusung oleh el-Asyi sangat sesuai dengan momentum. Jika momentumnya adalah Ramadhan, maka Geuma el-Asyi akan membahas seputar Ramadhan dan pernak-perniknya. Jika momentumnya adalah Cakradonya Cup, maka pembahasannya adalah seputar Cakradonya. Saat ini geuma el-Asyi telah terbit 4 edisi, edisi terakhir terbit pada bulan Oktober 2010.



Serba- Serbi el-Asyi


1. Motto el-Asyi

el-Asyi mengusung sebuah jargon yang juga merupakan motto KMA "Udeep Saree Matee Syahid", yang bermakna bahwa kita selaku seorang Muslim hanya mempunyai dua pilihan dalam kehidupan fana ini; memiliki arti yang besar dalam kehidupan atau meraih syahid. Jargon ini juga bermakna kebersamaan.

2. Tujuan el-Asyi

a. Mempererat tali silaturrahmi antar anggota KMA khususnya dan masyarakat luar pada umumnya

b. Berusaha menyamakan visi dan misi KMA

c. Menumbuhkembangkan sifat gemar menulis di kalangan anggota KMA

d. Tempat menampung aspirasi anggota

e. Membina penulis berbakat dalam bidang pers dan jurnalistik

f. Mengetengahkan informasi aktual dan faktual bagi seluruh anggota KMA

g. Mencari solusi untuk berbagai problematika yang berkembang



3. Penulis

Karena buletin ini adalah milik mahasiswa Aceh, maka yang berhak menulis adalah seluruh anggota Keluarga Mahasiswa Aceh Republik Arab Mesir dan juga para alumni KMA yang telah berdikari di tanah air.



4. Perekrutan kru

Kru el-Asyi merupakan warga asli KMA yang sedang menimba ilmu di negeri anbiya. Kru yang dipilih menjadi staff tentu bukan sembarang orang. Ada kriteria dan sifat-sifat tertentu yang membuat seorang anggota terpilih. Beberapa cara perekrutan kru:

a. Calon kru yang dinilai capable dimintai kesediaannya untuk bergabung

b. Pimred terpilih el-Asyi memilih sendiri calon kru yang sinergi dengannya

c. Dua tahun belakangan ini, peserta terbaik pada Pelatihan Jurnalistik KMA langsung diajak bergabung bersama el-Asyi.



5. Cover el-Asyi

Tiap pimred tentu mempunyai kebijakan-kebijakan dalam hal rubrik dan kemasan el-Asyi. Salah satu perubahan yang sangat mencolok adalah masalah cover. Biasanya cover el-Asyi selalu kertas HVS warna. Tapi sejak edisi 83 cover lux telah membuat wajah depan el-Asyi makin sumringah saja. Meski disana-sini masih butuh perbaikan.



6. Sumber dana el-Asyi

Sumber dana utama el-Asyi sampai sekarang berasal dari kas KMA. Kemudian el-asyi mengantungkan mobilitasnya dengan dana penjualan. Pada masa dulu, el-asyi banyak mendapatkan sumbangan dana dari para donatur, tapi akhir-akhir ini geliat donatur sudah sangat berkurang. Kita berharap semoga kali kedepan akan ada donatur-donatur mulia untuk el-Asyi sebagai langkah mempelancar gerak el-Asyi sendiri.



7. Harga el-Asyi

Edisi pertama dan kedua, el-Asyi diberikan secara percuma alias gratis kepada seluruh anggota KMA. Mulai edisi ketiga, el-asyi telah pasng harga 0,50 Le. Selanjutnya harga el-asyi naik menjadi 1.00 Le. Dan sejak edisi ke 83 el-asyi dengan wajah baru memasang infaq 1.50 Le. Pada kepengurusan tahun 2009-2010 el-asyi naik menjadi 2 Le mengingat krisis ekonomo yang melanda Mesir dan harga itu masih bertahan sampai sekarang. Namun sangat miris sekali dengan harga yang sangat terjangkau itu masih ada juga yang masih berhutang kala membeli el-Asyi bahkan mengacuhnya sama sekali.



Kru el-Asyi 2010/2011


Pemred : Azmi Abubakar
Pimpinan Usaha : Anzila Arzaq Arsyad
Redaktur Pelaksana : Muhibbusabri Hamid
Reporter : Husni Nazir, Zakiah Zainun, Mawaddah
Staf Redaksi : M. fikri, Irwansyah, Teuku Tasqa, Humaira Syukri, Sumainah, Kuntari Madchaini, Afifah Thohirah
Editor : Mursalin Basyah, Zahrul Bawady, Furqan Ar-Rasyid
Layouter : Zulfahmi, Muhajir Sanusi



el-Asyi Butuh Pembenahan Besar

Sebagai pengingat dan mungkin menjadi refleksi kembali bagi kita semua, el-Asyi tahun 2011 ini telah berumur 20 tahun dan telah mencapai edisi yang ke109 semenjak terbit perdana tahun 1991 lalu. Seiring umur yang cukup lama itu, el-Asyi membutuhkan pembenahan besar dalam segala aspek. Sebagai generasi pewaris, kami selalu berusaha untuk menuju ke arah pembenahan dimaksud, walau dalam perjalanannya ada banyak duri yang menghadang baik itu datang dari internal maupun eksternal sendiri.

Sisi positifnya adalah kami bisa belajar banyak dari beribu duri yang menghadang itu, namun tak dipungkiri bahwa ribuan duri tersebut membuat tubuh kami terkadang lunglai tak berdaya menggerakkan roda. Pada sisi lain, sinergisitas keilmuwan dan organisasi sebagai konsumsi mahasiswa sehat menuntut kami untuk terus belajar dari berbagai macam problema.

Hatta keabadian visi hudeep saree matee syahid sedikit banyak mampu memompa darah kami untuk terus berpacu. Adalah dukungan dari kru semua dalam berbagai hal terutama soliditas dan efisiensi waktu akan sangat membantu jalannya roda el-Asyi, ketepatan waktu dalam mengumpulkan tulisan juga akan semakin mempelancar gerak el-Asyi. yang paling penting lagi adalah dukungan keseluruhan mahasiswa Aceh di Mesir dengan membeli el-Asyi dan memberi support kepada semua yang berkecimpung dalam proses penerbitan el-Asyi.


Karena satu hal yang perlu kita sadari bahwa el-Asyi ini adalah milik bersama sebagai media pembelajaran, wadah kepenulisan bagi kita selaku hamba ilmu dan lebih dari itu el-Asyi ini adalah sebagai aset penting aneuek nanggroe. Mental mulia ini harus tumbuh kembali sebagai bentuk kecintaan bersama kepada el-Asyi. Semoga!




************
Sumber : Catatan facebook Sdr. Azmi Abubakar

28 Jul 2011

Eumpang Breuh, Grup Lawak Dari Aceh


Grup lawak yang satu ini merupakan grup lawak yang sangat terkemuka di Aceh. Dikemas dengan topik yang terjadi sehari-hari dan memunculkan realitas akting dari para pemainnya, grup lawak ini sebenarnya pantas untuk tampil di tingkat nasional. Grup lawak ini tidak hanya digemari oleh kawula muda, namun juga sangat dinantikan episode-episode lainnya oleh berbagai kalangan ataupun usia.

Para pemeran utamanya seperti Bang Joni dengan sifat innocentnya, Yusniar dengan aura pesona khas wajah wanita Aceh, Haji Uma yang awalnya tampil tempramen dan sangat emosional dan belakangan sudah sedikit civilized, dan Mando yang selalu setia menemani Bang Joni mewujudkan impiannya serta menjadi pemberi solusi yang kocak dan ampuh terhadap masalah yang dihadapi Bang Joni, seakan menjadi magnet tersendiri bagi para penggemarnya.

Grup lawak ini sudah sangat eksis di Aceh, semoga saja bisa bersaing di tingkat nasional dengan menampilkan berbagai kultural yang berbeda. Grup yang sudah melakoni enam episode tayangnya dan memproduksi ratusan ribu keping compact disk ini, sangat dinantikan aksi panggungnya oleh mayoritas pecinta humor dan awak di Aceh.

Semoga saja grup ini tetap tampil konsisten, meracik dan membawa nilai-nilai kebudayaan luhur, serta menyisipkan pesan-pesan bermanfaat bagi kawula muda dan penonton dari berbagai kalangan dan usia untuk tetap semangat menjalani hidup yang bermartabat dan damai dalam tatanan kehidupan yang mumpuni.



***********

http://www.youtube.com/watch?v=fjs38kbuSAI

***********



********
Sumber : Shvoong.com
YouTube, Google image

27 Jul 2011

ACEH

ACEH, special region (1980 pop. 2,875,634), 21,387 sq mi (55,392 sq km), N Sumatra, Indonesia, formerly known as Atjeh or Achin. The capital and largest city is Banda Aceh. The northernmost province of Sumatra, Aceh has rich petroleum and natural gas deposits as well as valuable rubber, oil palm, and timber resources. The Acehnese, like most Indonesians, are Muslim, but are generally more conservative. Gunung Leuser National Park is in SE Aceh.

A kingdom in N Sumatra is recorded by the 6th-cent. A.D. Chinese. By the 8th cent. Islam had arrived, and a number of Muslim kingdoms and sultanates were subsequently established in the region. Aceh (Achin) reached the height of its power in the early 17th cent. The Dutch gained control of the coast in 1873 and engaged in a partly successful effort to subdue the interior until c.1910.

Aceh also resisted Indonesian control and in 1959 was designated a special region with autonomy in religion, culture, and education. Late in 1976 the Movement for a Free Aceh (GAM) declared the province independent but was suppressed; guerrilla warfare resumed in the late 1980s and continued through the rest of the century. A peace agreement providing for greater Acehnese autonomy was signed in 2002, but with neither side willing to compromise, Indonesia ended the subsequent talks in 2003, imposed martial law (reduced to a state of emergency in 2004 and ended in 2005), and launched new attacks against the rebels.

Many coastal areas in Aceh were devastated by an intense offshore earthquake and resulting tsunami in Dec., 2004; some 166,000 died in the province. In the aftermath, the rebels and government held a series of talks aimed at ending the fighting. A new peace accord, calling for the rebels to disarm, government forces to be reduced, and for local self-government to be established in Aceh, was signed in Aug., 2005. Some 15,000 people are believed to died as a result of the conflict. An autonomy law for Aceh was passed by the Indonesian parliament in 2006, but some Acehnese criticized it for provisions that left the central government with more powers in Aceh than had been envisioned by the peace agreement. In Dec., 2006, Irawandi Yusuf, a former GAM rebel, was elected governor.


**********
Source : Answer.com

26 Jul 2011

Bu Kulah dan Silaturrahmi Meuloed ala Pidie

Khenduri meuloed (maulid) di gampong-gampong dalam Kabupaten Pidie masih khas Aceh. Tamu dari gampong tetangga disajikan bu kulah, sie manok, sie itek, dan menu lezat lainnya.

Matahari mulai merangkak naik. Mawa Saidah, 50, mulai sibuk membungkus nasi dengan daun pisang muda yang sudah dilayukan dengan hawa panas api. Ini disebut bu kulah. Sekitar 20-an bu kulah dimasukkan dalam ember besar. Dalam ember lainnya, ditempatkan sejumlah piring berisi sie manok, sie itek, dan beberapa jenis ikan. Ada juga menu tambahan termasuk pisang dan bu lukat.

Dua ember yang sesak dengan menu khenduri maulid itu dibungkus dengan kain khusus. Tugas Mawa Saidah selesai. Dilihatnya jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Bergegas Mawa Saidah memanggil cucunya, Mahdi,20. “Kajeut kaba khauri meuloed u meunasah (sudah bisa kamu antar khenduri maulid ke meunasah),” kata Mawa Saidah memerintahkan Mahdi.

Mawa Saidah dan Mahdi adalah warga Dayah Guci, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie. Hari itu, Ahad (28/3), masyarakat setempat merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad saw. dengan cara berkhenduri. Sekitar pukul 12.00 WIB, di meunasah Dayah Guci sudah terkumpul 80-an ember dan tempayan berisi khenduri maulid.

Sekelompok santri yang sedari tadi pagi menggelar dzike dan dalae di dalam meunasah, mulai istirahat. Kini saatnya menunggu tamu dari gampong tetangga. Sama seperti tahun sebelumnya, bahkan sejak puluhan tahun lalu, masyarakat Dayah Guci mengundang warga Gampong Sukon Baroh, Blang Drang, dan Kayee Raya untuk ramai-ramai datang menerima khenduri maulid yang sudah disiapkan.

Kali ini, masyarakat Gampong Blang Drang datang lebih cepat. Sebagian dari mereka berboncengan sepeda motor. Sisanya jalan kaki. Mereka disambut bersahaja oleh para tokoh Dayah Guci yang sudah menunggu di meunasah. “Neu langkah u dalam, khauri ka kamoe seudia (silahkan masuk ke dalam meunasah, khenduri sudah kami sediakan),” ujar salah seorang Tuha Peut Dayah Guci.

Begitu masuk ke meunasah, masyarakat Blang Drang mengambil posisi duduk bersila dengan membentuk beberapa kelompok. Masing-masing kelompok menghadap ke ember maupun tempayan berisi khenduri maulid. Dua pimpinan kelompok langsung membuka kain pembungkus ember dan tempayan. Awalnya bu kulah yang dibagi-bagikan. Kemudian, bu kulah itu dibuka untuk menampung menu lainnya seperti sie manok dan sie itek.

Hanya butuh waktu sekitar lima menit, pembagian khenduri selesai. Tapi khenduri maulid itu tidak disantap di tempat itu, melainkan dimasukkan ke kantong plastik yang sudah disiapkan. Selanjutnya, satu per satu warga Blang Drang minta izin pada tuan rumah untuk pamit sambil menjinjing kantong plastik berisi khenduri. Mereka melangkah pulang dengan senyum lebar.

Beberapa saat setelah masyarakat Blang Drang pulang, giliran warga Sukon Baroh tiba di meunasah Dayah Guci. Mereka juga mendapat sambutan dan pelayanan bersahaja. Gelombang terakhir, datang masyarakat Kayee Raya yang lebih dikenal dengan sebutan Gampong Tanjong.

Khenduri massal di meunasah Dayah Guci pun berakhir. Tapi di rumah-rumah warga, para tamu yang sebagian besar adalah sanak saudara dan rekan sejawat, masih terus berdatangan memenuhi undangan khenduri maulid. Para tamu itu tampak membawa gula seberat satu hingga dua kilogram untuk diberikan kepada tuan rumah. “Poh padib beurangkat dari Banda (jam berada berangkat dari Banda Aceh),” kata seorang warga Dayah Guci yang menyambut tamunya dari Banda Aceh.

Beda dengan khenduri di meunasah, para tamu yang dilayani di rumah langsung menyantap sajian makanan dan tidak membawa pulang khenduri tersebut. Kesempatan menikmati bu kulah sambil bersilaturrahmi seperti itu akan dilanjutkan lagi tahun depan. Nikmatnya bu kulah dan sie manok, indahnya silaturrahmi antarsesama.




*********
Sumber : Seputaraceh.com

25 Jul 2011

Seluk-beluk Tari Saman

Bagi para penikmat seni tari, Saman menjadi salah satu primadona dalam pertunjukan. Dalam setiap penampilannya, selain menyedot perhatian yang besar juga menyedot para penikmat seni tari. Tarian Saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik, karena hanya menampilkan gerak tepuk tangan dan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak badan, kepala dan posisi badan. Keunikan lainnya terlihat dari posisi duduk para penari dan goyangan badan yang dihentakkan ke kiri atau ke kanan, ketika syair-syair dilagukan.

Tari ini biasanya dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki, tetapi jumlahnya harus ganjil. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, tarian ini dimainkan pula oleh kaum perempuan atau campuran antara laki-laki dan perempuan. Dan tentunya dengan modifikasi gerak lainnya. Saya kadang bertanya bagaimana orang sebanyak itu bisa dengan serentak memainkan tarian yang memiliki kecepatan tinggi? Selain latihan tentunya, pasti ada formasi tertentu dalam meletakkan tiap-tiap penari itu sehingga kerapatan dan keseimbangan tarian terlihat harmonis dan dinamis.

Hampir semua tarian Aceh dilakukan beramai-ramai. Ini memerlukan kerjasama dan saling percaya antara syeikh (pemimpin dalam tarian) dengan para penarinya. Namun apa saja unsur yang membuat tarian ini menjadi begitu indah dalam gerak, irama dan kekompakan tidak banyak kita mengetahuinya.

Sekarang mari kita mulai mengupas unsur pendukung dalam tari saman ini. Mungkin saat kita mengetahui segala aspek yang terdapat dalam tarian ini, kita dapat lebih memahami. Dan mendapatkan tidak hanya keindahan namun juga makna filosofi dari posisi, gerak, syair yang terlantun saat pertunjukan Saman di gelar.

Dalam penampilan yang biasa saja (bukan pertandingan) dimana adanya keterbatasan waktu, Saman bisa saja dimainkan oleh 10 – 12 penari, akan tetapi keutuhan Saman setidaknya didukung 15 – 17 penari. Yang mempunyai fungsi sebagai berikut :

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17


Nomor 9 disebut Pengangkat
Pengangkat adalah tokoh utama (sejenis syekh dalam seudati) titik sentral dalam Saman, yang menentukan gerak tari, level tari, syair-syair yang dikumandangkan maupun syair-syair sebagai balasan terhadap serangan lawan main (Saman Jalu / pertandingan)

Nomor 8 dan 10 disebut Pengapit
Pengapit adalah tokoh pembantu pengangkat baik gerak tari maupun nyanyian/ vokal

Nomor 2-7 dan 11-16 disebut Penyepit
Penyepit adalah penari biasa yang mendukung tari atau gerak tari yang diarahkan pengangkat. Selain sebagai penari juga berperan menyepit (menghimpit). Sehingga kerapatan antara penari terjaga, sehingga penari menyatu tanpa antara dalam posisi banjar/ bershaf (horizontal) untuk keutuhan dan keserempakan gerak.

Nomor 1 dan 17 disebut Penupang
Penupang adalah penari yang paling ujung kanan-kiri dari barisan penari yang duduk berbanjar. Penupang selain berperan sebagai bagian dari pendukung tari juga berperan menupang/ menahan keutuhan posisi tari agar tetap rapat dan lurus. Sehingga penupang disebut penamat kerpe jejerun (pemegang rumput jejerun). Seakan-akan bertahan memperkokoh kedudukan dengan memgang rumput jejerun (jejerun sejenis rumput yang akarnya kuat dan terhujam dalam, sukar di cabut.

Tari saman ditarikan dalam posisi duduk. Termasuk dalam jenis kesenian ratoh duk (tari duduk). Yang kelahirannya erat berkaitan dengan masuk dan berkembangnya agama islam. Dimana posisi penari duduk berlutut, berat badan tertekan kepada kedua telapak kaki. Pola ruang pada tari saman juga terbatas pada level, yakni ketinggian posisi badan. Dari posisi duduk berlutut berubah ke posisi diatas lutut (Gayo – berlembuku) yang merupakan level paling tinggi, sedang level yang paling rendah adalah apabila penari membungkuk badan kedepan sampai 45o (tungkuk) atau miring kebelakang sampai 60o (langat). Terkadang saat melakukan gerakan tersebut disertai gerakan miring ke kanan atau ke kiri yang disebut singkeh. Ada pula gerak badan dalam posisi duduk melenggang ke kanan-depan atau kiri-belakang (lingang).

Selain posisi duduk dan gerak badan, gerak tangan sangat dominan dalam tari saman. Karena dia berfungsi sebagai gerak sekaligus musik. Ada yang disebut cerkop yaitu kedua tangan berhimpit dan searah. Ada juga cilok, yaitu gerak ujung jari telunjuk seakan mengambil sesuatu benda ringan seperti garam. Dan tepok yang dilakukan dalam berbagai posisi (horizontal/ bolak-balik/ seperti baling-baling). Gerakan kepala seperti mengangguk dalam tempo lamban sampai cepat (anguk) dan kepala berputar seperti baling-baling (girek) juga merupakan ragam gerak saman. Kesenyawaan semua unsur inilah yang menambah keindahan dan keharmonisan dalam gerak tari saman.

Karena tari saman di mainkan tanpa alat musik, maka sebagai pengiringnya di gunakan tangan dan badan. Ada beberapa cara untuk mendapatkan bunyi-bunyian tersebut:

1. Tepukan kedua belah tangan. Ini biasanya bertempo sedang sampai cepat
2. Pukulan kedua telapak tangan ke dada. Biasanya bertempo cepat
3. Tepukan sebelah telapak tangan ke dada. Umunya bertempo sedang
4. Gesekan ibu jari dengan jari tengah tangan (kertip). Umunya bertempo sedang.

Dan nyanyian para penari menambah kedinamisan dari tarian saman. Dimana cara menyanyikan lagu-lagu dalam tari saman dibagi dalam 5 macam :

Rengum, yaitu auman yang diawali oleh pengangkat.
Dering, yaitu regnum yang segera diikuti oleh semua penari.
Redet, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang penari pada bagian tengah tari.
Syek, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak
Saur, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan oleh penari solo.

Dalam setiap pertunjukan semuanya itu di sinergikan sehingga mengahasilkan suatu gerak tarian yang mengagumkan. Jadi kekuatan tari Saman tidak hanya terletak pada syairnya saja namun gerak yang kompak menjadi nilai lebih dalam tarian. Ini boleh terwujud dari kepatuhan para penarinya dalam memainkan perannya masing-masing.

Itulah sekelumit tentang fungsi formasi, jenis gerak, asal musik pengiring serta nyanyian dalam pertunjukan tari Saman. Semoga bermanfaat bagi anda dalam memahami tarian Saman.



Sedikit Sejarah Tari Saman


Tari ini berasal dari dataran tinggi tanah Gayo. Di ciptakan oleh seorang Ulama Aceh bernama Syekh Saman. Pada mulanya tarian ini hanya merupakan permainan rakyat biasa yang disebut Pok Ane. Melihat minat yang besar masyarakat Aceh pada kesenian ini maka oleh Syekh disisipilah dengan syair-syair yang berisi Puji-pujian kepada Allah SWT. Sehingga Saman menjadi media dakwah saat itu. Dahulu latihan Saman dilakukan di bawah kolong Meunasah (sejenis surau, saat itu bangunan aceh masih bangunan panggung). Sehingga mereka tidak akan ketinggalan untuk shalat berjamaah.

Sejalan kondisi Aceh dalam peperangan maka syekh menambahkan syair-syair yang manambah semangat juang rakyat Aceh. Tari ini terus berkembang sesuai kebutuhannya. Sampai sekarang tari ini lebih sering di tampilkan dalam perayaan-perayaan keagamaan dan kenegaraan. Tarian ini pada awalnya kurang mendapat perhatian karena keterbatasan komunikasi dan informasi dari dunia luar. Tari ini mulai mengguncang panggung saat penampilannya pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) II dan peresmian pembukaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Gemuruh Saman di TMII menggemparkan tidak hanya nusantara namun sampai ke manca negara. Saya sebagai anak negeri ini berharap semoga tari Saman bisa terus menggema.



************
Sumber : Pusaka2Aceh

24 Jul 2011

A Brief History of Aceh

by Ben Terrall (with thanks to Sylvia Tiwon for valuable feedback and research assistance)

In the wake of East Timor's August 1999 referendum, hundreds of thousands have marched in support of a similar act of self-determination in the Indonesian region of Aceh, a region which also has endured decades of brutal military operations. Aceh is a province in Northern Sumatra, which, like most of Indonesia, is overwhelmingly Muslim. It has a population of around five million, and a long tradition of resistance to outside powers.

Islam likely first entered the Indonesian archipelago through Aceh sometime around the 12th century. In the sixteenth and seventeenth centuries, the port of Aceh became entangled, along with the rest of what now comprises Indonesia, in the European colonial powers' competition for worldwide political and economic dominance.


The British and Dutch were in competition for spices produced in Eastern Indonesia, for which Aceh was an international trading center. In an attempt to undermine Aceh's hold on the international spice trade, the British and Dutch carried their business (and rivalry) to West Java. After many parliamentary debates on the wisdom of attacking a sovereign state, in 1873 the Netherlands issued a formal declaration of war and invaded Aceh. One of their primary rationalizations for this aggression was to counter what they perceived as Acehnese piracy, especially attacks on trading ships. The Acehnese resisted occupation and fought a war of resistance which lasted intermittently from 1873 to 1942. The conflict was the longest the Dutch ever fought, costing them more than 10,000 lives.

In March 1942 Japan conquered the colonial forces in the Dutch East Indies. In August 1945, just days after the Japanese surrendered to the Allies, the Republic of Indonesia proclaimed its independence. Soon, however, both the British and Dutch were back in the region, though the Dutch did not return to Aceh.

Under the Linggarjati Agreement, mediated by Great Britain and signed by Indonesia and the Netherlands in March 1947, the Dutch recognized Indonesian sovereignty over the islands of Java, Sumatra, and Madura. Many Indonesians viewed the deal as a violation of Indonesia's independence proclamation of August 1945, which implied sovereignty over the whole territory of the Republic. The agreement sparked guerrilla fighting and led to another four years of violence and territorial disputes between the Netherlands and Indonesia.

Many Acehnese see the 1949 Round Table Conference Agreements as the first serious betrayal of their homeland. Brokered through the United Nations, the agreements provided for a transfer of sovereignty between the territory of the Dutch East Indies and a fully independent Indonesia. On December 27, 1949, the Dutch East Indies ceased to exist and became the sovereign Federal Republic of Indonesia, which in turn became the Republic of Indonesia when it joined the United Nations in 1950. The Kingdom of Aceh was included in the agreements despite not having been formally incorporated into the Dutch colonial possession. The Indonesian government then used armed troops to annex Aceh.

Although Indonesia has the largest Muslim population of any country, it is not an Islamic state. Most Acehnese have a less secular vision of Islam than Indonesians elsewhere in the archipelago, but compared to Iran, Afghanistan, and other more fundamentalist countries, Acehnese Islam tends to be relatively respectful of the rights of women. Its focus on community also stresses the importance of social and economic justice to an extent that runs contrary to Indonesian military hegemony.

The precursor to Aceh's independence movement began in the 1950s when the Darul Islam ("House of Islam") rebels on the major Indonesian island of Java tried to establish an Islamic state. The Acehnese lent support to this rebellion, which took years to crush.

In 1959, Jakarta gave Aceh "special territory" status, which ostensibly conferred autonomy in religious, educational, and cultural matters. In practice this policy ignored the two major complaints of the region's indigenous population: Javanese and foreign control of natural resources and a repressive military presence.

Resentment over those cruel realities contributed to the 1976 creation of the armed resistance group Gerekan Aceh Merdeka (GAM-Free Aceh Movement), which the TNI refers to as Gerombolan Pengacau Keamananan (GPK), or "gang of security disturbers." In the late 1970s, Indonesian authorities conducted mass arrests of Aceh Merdeka members and killed many of its leaders. The movement's leader, Hasan di Tiro, fled to Sweden in 1979 and created a government in exile.

After GAM re-emerged with broad popular support in the late 1980s, Jakarta officially declared the province a Military Operational Area (Daerah Operasi Militer, or DOM) and launched a counter-insurgency campaign code-named Red Net. The regional commander at the time spelled out his military's basic policies by saying, "I have told the community, if you find a terrorist, kill him. There's no need to investigate him ... if they don't do as you order them, shoot them on the spot, or butcher them." Amnesty International reported that between 1989 and 1992 about 2,000 people were killed by military operations in Aceh.

After international capitalism's "Asian financial crisis" and Suharto's downfall, Acehnese had high hopes for a new era of demilitarization and true democracy. Unfortunately the military proved unwilling to do much beyond make cosmetic changes: announcing an end to DOM status for Aceh on August 7, 1998, then Armed Forces Chief Wiranto said "although human rights violations took place, the soldiers were only doing their job of annihilating the armed security disturbers," and General Feisal Tanjung told reporters that accusations of TNI abuses were merely folk-tales.

Since Suharto's rise to power in the 1960s Aceh has been one of the archipelago's most profitable areas for international investment. The province includes most of Indonesia's liquid natural gas; Mobil Oil Indonesia heads the country's largest liquefied natural gas production project in Arun, North Aceh. In its report "A Reign of Terror, Human Rights Violations in Aceh 1998-2000," the U.K.-based Indonesia Human Rights Campaign TAPOL notes that "the extent to which DOM in Aceh provided government officials and military personnel with limitless opportunities to profit financially from this economically fertile region cannot be underestimated." Such vested interests will not be easily swayed by the soothing rhetoric of Indonesian President Abdurrahman Wahid, who has repeatedly promised more than he can deliver to the Acehnese people. On December 18, Wahid visited Aceh and called on military commanders not to be "an enemy of the people," but resistance activist Amni Achmad Marzuki responded, "We have heard him say this many times. Where is the implementation of those words? His military makes no effort to obey his orders."

The TAPOL report also notes that "The response of the security forces to the withdrawal for DOM can be divided into four phases, which more or less coincide with the different security operations launched." These are "intimidation, overt massacres, war of attrition and the return to shock therapy, and targeting of civilian activists."

That last phase is unfortunately still ongoing. In one of the more disturbing recent examples, Munarman, coordinator of the Commission for Missing Persons and Victims of Violence (Kontras) accused three policemen of being responsible for the December 6 murders of three activists from Rehabilitation Action for Torture Victims in Aceh (RATA). The three humanitarian workers were killed while helping victims of military violence in North Aceh.



************
Source : ESTAFETA

23 Jul 2011

Spiritual Gateway to Southeast Asia


About 100 Tourists, mostly Americans visited Banda Aceh and were warmly welcome by the City Mayor Illiza Saaduddin and the locals. They arrived via Cruise Ship MV Clipper Odyssey (Photos Jan 11, 2011)

Aceh (pronounced Ah-chay) is an autonomous territory of Indonesia, located on the northern tip of the island of Sumatra. Aceh is where Islam was first established in Southeast Asia. In the early seventeenth century the Sultanate of Aceh was the most wealthy, powerful and cultivated state in the Malacca Straits. Aceh was the closest point of land to the epicenter of the massive 2004 Indian Ocean earthquake, which triggered a Tsunami that devastated much of the western coast of the region, including Banda Aceh. With the help of International community and the strong spirit of the locals, Aceh was able to "built back better". Most Aceh regions are covered with forest, rich with economic commodities of oil and gas and other agriculture products.

Visa-on-Arrival: Since June 2010, Aceh Visa on Arrival (VoA) is available at Aceh's Sultan Iskandar Muda International Airport. The VoA extends to nationals of 63 countries. VoA are valid for 30 days and are extendable with another 30 days to be applied at Immigration offices in Indonesia. For each visitor using VoA entering Aceh will be charged US$25. There are direct flights to Banda Aceh from Jakarta, Medan, Penang or Kuala Lumpur

The land of plenty coffee shops: Aceh coffee is special and tasty. Most famous is Gayo Mountain Coffee, and Coffee Uleekareng. There are hundreds of quality of coffee shops across Banda Aceh. Drinking coffee in Acehnese community has been quite popular and is an important part of a social activity. So while in Aceh, don't forget to stop by coffee shops!.



*************
Source : http://aceh.net/

22 Jul 2011

Keuneunong, Almanak Aceh

oleh : Iskandar Norman

Dalam membagi bulan, musim dan iklim, masyarakat Aceh sejak zaman dahulu mempunyai penanggalan tersendiri, yang disebut dengan keunong atau keuneunong.

Dalam penanggalan Aceh, ada dua belas keunong selama satu tahun. Sama dengan jumlah bulan dalam setahun menurut penanggalan masehi. Tapi, penanggalan keunong tidak sama dengan tahun masehi, baik jumlah hari maupun perhitungannya.

Penanggalan menurut keunong ini sudah berlaku sejak zaman dahulu di Aceh. Bahkan sebelum kerajaan Aceh terbentuk–sebelumnya hanya ada kerajaan-kerajaan kecil, seperti kerajaaan Lamuri di Aceh Besar sekarang, Kerajaan Daya di Meureuhom Daya, Kerajaan Pohela di Peureulak, Kerajaan Seroja di Aceh Timur sekarang, dan berbagai kerajaan lainnya.

Ketika Kerajaan Aceh Darussalam kuat di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda. Kerajaan-kerajaan itu disatukan menjadi federasi dari kerajaan Aceh. Rangkaian keunong yang semuanya ganjil, dari dua puluh tiga sampai satu. Hal ini lebih kepada tradisi untuk membedakan dengan penanggalan-penanggalan di luar Islam. Dan, Allah lebih menyukai bilangan ganjil.


Menurut Snouck Hurgronje dalam bukunya “The Atjeher” terjemahan NG Singarimbun (Eds), terbitan Yayasan Soko Guru, 1985. Snouck menyatakan bahwa keunong diawali dengan keunong dua ploh lhee (23 Jumadil Akhir, menurut tahun Hijriah). Pada keunong ini, biasanya padi-padi di sawah mulai menguning, banyak yang rebah dan menjadi puso karena angin timur yang sangat kencang.

Bahkan mengenai hal ini dalam sebuah idiom pun orang Aceh sering menyebutkan musem timu jak tarek pukat, musem barat jak meuniaga.Yang artinya musim timur (angin timur) lebih baik pergi melaut, musim barat (angin barat) lebih baik untuk berdagang, karena pada musim timur ombak tidak ganas. Sementara pada musim barat ombaknya ganas dan sering datangnya badai.

Keunong selanjutnya adalah keunoeng dua ploh sa (21 Ra’jab). Pada musim ini biasanya padi di sawah mulai panen, atau khanduri blang (kenduri turun ke sawah) untuk memulai penyemaian benih. Dekade ini sering juga disebut sebagai musem luah blang dalam artian sawah-sawah sudah selesai panen.

Kemudian keunong sikureung blah, biasanya keadaan iklimnya hampir sama dengan keunong dua ploh sa. Para petani mulai turun ke sawah. Selanjutnya keunong tujoh blah, pada dekade ini awal bertiupnya angin barat. Mengawali musim ini, para nelayan biasanya mengadakan khanduri laot (kenduri turun ke laut) karena pada musim barat ombak tidak besar.

Lalu keunong limong blah. Pada musim ini sawah-sawah sudah siap digarap dan siap tanam dan di laut mulai ada badai. Pada pertengahan bulan Zulkaidah akan beralih ke keunoeng lhee blah, berlanjut ke keunong siblah dan terus ke keunong sikureung. Suatu hal yang sangat ganjil, mungkin juga fenomena alam, keunong sikureung ini menurut masyarakat pedesan, ditandai dengan banyaknya keureungkong (ketam darat) yang keluar dari lubangnya (keureungkong woe), entah sejauh mana korelasi antara keunong sikureung ini dengan keureungkong woe, tapi yang jelas pada dekade ini, suhu sangat panas.

Keunong tujoh lain lagi, pada dekade ini, ditandai dengan banyaknya anjing yang menggonggong di malam hari. Karena biasanya jatuh pada bulan Safar, pada keunong tujoh biasanya tidak diadakan acara-acara pesta pernikahan, khitanan dan lain sebagainya, karena dianggap bulan yang naas.

Pada akhir bulan ini biasanya masyarakat akan berbondong-bondong pergi untuk mandi ke laut, manoe rabu abeh istilahnya (mandi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar untuk membuang sial). Tapi tradisi tersebut kini sudah agak hilang, karena ada suatu pendapat yang katanya bertentangan dengan ajaran Islam, sebab kemalangan itu merupakan ketentuan dalam qada dan qadar, itu merupakan rahasia Tuhan yang tidak diketahui hamba, bukan terletak pada bulan-bulan tertentu.

Kemudian keunong limong, ditandai dengan mulai bertiupnya angin timur dan para nelayan mulai melaut kembali. Terus beralih ke keunong lhee. Terakhir keunong sa, pada musim ini, hujan sangat lebat dan cangguek poe (katak) akan bersuara di setiap kubangan. Bahkan kaitan antara keunong sa dengan katak ini diabadikan oleh masyarakat Aceh dalam sebuah teka-teki. Ta ek u gle ta koh bak jeumeureu, keudeh ta sadeu bak kayee raya, blet kilat khum geulanteu, kabeh meusiseu lam blang raya. Kaitan tersebut ada dalam jawaban teka-teki di atas, Bak ta jak-jak meuteumei situek, bak ta duek-duek ta cop keu tima, phop le di chen phop le di duek, nyan keuh cangguek musem keunong sa.

Para petani dan nelayan tradisional Aceh pun sampai kini memakai penanggalan tersebut sebagai dasar perkiraan melaut dan bertani. Hal ini seperti terungkap dalam hadih maja Keunong siblah tabu jareung, keunong sikureung rata-rata, keunong tujoh pih jeut mantong, keunong limong ulat seuba. Maksudnya pada keunoeng siblah baiknya benih padi disemai agak jarang sedikit. Keunong sikureung ditabur rata. Keunong tujoh¸ juga masih bisa, keunoeng limoeng itu sudah musim datangnya ulat daun.

Selain keunong ada juga penanggalan Aceh yang berdasarkan tahun Hijriah. Bisa dikatakan penanggalan ini adalah penanggalan Arab yang di-Aceh-kan, yaitu; Bulan Muharram, menurut penanggalan Arab dalam penaggalan Aceh disebut Asan-Usen, hal ini diambil dari nama cucu nabi Hasan dan Husen. Bulan Safar menurut tahun Hijriah di Aceh disebut Safa. Bulan Rabiul Awal dalam penanggalan Aceh disebut buleun Molot, diambil dari kata maulud yakni memperingati hari lahirnya nabi Muhammad. SAW.

Rabiul Akhir, dalam bahasa Aceh disebut adoe molot atau rabi’oy akhe. Jumadil Awal dalam penanggalan Aceh disebut molot seuneulheuh. Dulunya para pemelihara barang antik di Aceh, juga menamakan bulan ini dengan madika pho, yang bearti “yang pertama bebesa”.

Kemudian Jumadil Akhir dalam penanggalan Hijriah, dalam bahasa Aceh disebut buleun khanduri boh kayee yaitu kenduri atau persembahan buah-buahan secara keagamaan. Bulan Rajab tahun Hijriah, dalam penanggalan Aceh disebut buleun khanduri apam, yaitu bulan kenduri kue apam. Bulan Sya’ban disebut buleun khanduri bu (kenduri nasi).

Bulan Ramadhan, dalam bahasa Aceh disebut langsung buleun puasa, karena pada bulan inilah puasa diperintahkan. Bulan Syawal, disebut uroe raya, karena pada awal bulan inilah perayaan hari raya idul fitri dilaksanakan. Selanjutnya bulan Zulkaidah, dalam bahasa Aceh disebut sebagai buleun meuapet.

Terakhir. bulan Zulhijjah. Disebut buleun haji, karena pada bulan inilah umat Islam melakukan ibadah haji. Meski penanggalan tersebut tidak dibuat langsung dalam bentuk kalender, tapi sampai kini masih digunakan oleh masyarakat Aceh, sebagai sebuah ciri ke-Aceh-an yang patut dipertahankan. Semoga saja tidak hilang ditelan zaman.



**************
Sumber : Iskandar Norman's blog

21 Jul 2011

GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR ACEH

Gubernur Irwandi Yusuf


Irwandi Yusuf atau lengkapnya drh. Irwandi Yusuf M.Sc. (lahir di Bireuen, Aceh, 2 Agustus 1960; umur 48 tahun) adalah Gubernur Aceh sekarang ini. Bersama wakilnya, ia dilantik pada 8 Februari 2007 oleh Menteri Dalam Negeri Mohammad Ma'ruf di hadapan 67 anggota DPR Aceh.

Irwandi Yusuf atau lengkapnya drh. Irwandi Yusuf M.Sc. (lahir di Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam, 2 Agustus 1960; umur 48 tahun) adalah Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam sekarang ini. Bersama wakilnya, ia dilantik pada 8 Februari 2007 oleh Menteri Dalam Negeri Mohammad Ma'ruf di hadapan 67 anggota DPRD NAD.

Nama : Irwandi Yusuf
Lahir : Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam, 2 Agustus 1960
Agama : Islam
Jabatan : Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam 2007-2012

Pendidikan

Sekolah Penyuluhan Pertanian di Saree
Sarjana Faktultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, (1987)
S2 College of Veterinary Medicine Universitas Negeri Oregon, 1993

Karir


Dosen Faktultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh sejak 1988
Pendiri dan pengurus lembaga swadaya Fauna dan Flora Internasional, 1999-2001
Palang Merah Internasional
Gerakan Aceh Merdeka atau GAM sebagai Staf Khusus Komando Pusat Tentara GAM selama 1998-2001

Semenjak kecil, ia terpesona dengan ilmu pertanian. Setelah tamat sekolah diniyah, dia melanjutkan ke Sekolah Penyuluhan Pertanian di Saree dan kuliah di Faktultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Setelah meraih gelar kedokteran hewan (1987), ia menjadi dosen sejak tahun 1989 untuk jurusan yang sama hingga terpaksa ditinggalkannya karena tampil sebagai kandidat kuat gubernur pada pilkada 2006. Pada 1993, ia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan S-2 pada College of Veterinary Medicine State University (Universitas Negeri Oregon), Amerika Serikat.

Perintis berdirinya lembaga swadaya Fauna dan Flora Internasional pada 1999-2001 pernah bekerja di Palang Merah Internasional (ICRC) pada tahun 2000. Selain sebagai senior Representative GAM (TNA) untuk Misi Pemantau Aceh (AMM). Ia masuk Gerakan Aceh Merdeka atau GAM dan dipercaya menduduki posisi Staf Khusus Komando Pusat Tentara GAM selama 1998-2001. Rekan sesama dosen sampai terheran-heran dengan langkah pindah haluan 180 derajat itu.

Pada awal tahun 2003 Irwandi ditangkap oleh aparat kepolisian dan divonis 9 tahun dipenjara dalam kasus Makar.

Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 melepaskan dirinya dari penjara Keudah, Banda Aceh. Ia melarikan diri ke Finlandia. Banyak orang mengira riwayat hidupnya sudah tamat. Ternyata, ia dipercaya petinggi GAM di Swedia sebagai Koordinator Juru Runding GAM. Saat rapat pertama di Aceh Monitoring Mission, dia tampil sebagai koordinator Juru Runding GAM di Aceh (2001-2002).

Irwandi Yusuf memenangi Pilkada NAD 2006 dari calon independen (non-partai). Ia berpasangan dengan Muhammad Nazar, S. Ag. Pilkada yang dilaksanakan pada 11 Desember 2006 mampu menghantarkannya sebagai pemimpin kepala daerah pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat daerah Aceh.

Hasil penghitungan cepat (quick count) yang dilakukan PT Lingkaran Survei Indonesia (LSI) bekerja sama dengan Jaringan Isu Publik (JIP) menunjukkan keunggulan suaranya atas pasangan-pasangan lain. Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar menempati urutan teratas perolehan suara sebesar 39,27%. Pada 29 Desember 2006, KIP Aceh mengumumkan penghitungan resmi akhir pemilihan kepala daerah dan ia berhasil memenanginya.

Dengan 768.745 suara (38,2 persen), ia unggul atas saingan-saingannya dan berhak menjabat untuk periode 2007-2012. Suara yang sah masuk mencapai 2.012.370, sedang suara tidak sah mencapai 158.643. Rekapitulasi hasil penghitungan suara ditetapkan Komisi Independen Pemilihan atau KIP di Banda Aceh. Pasangan ini memenangi perolehan suara di 15 dari 21 kabupaten/kota di Nanggroe Aceh Darussalam. Namun, kalah di Kota Banda Aceh, Kabupaten Pidie, Aceh Tengah, Bener Meriah, Singkil, dan Aceh Tamiang.


Wakil Gubernur Muhammad Nazar


Muhammad Nazar, S.Ag. (lahir di Ulim-Pidie, Aceh, 1 Juli 1973) adalah Wakil Gubernur Aceh saat ini. Ia terpilih lewat Pilkada Aceh 2006 dari calon independen (non-partai) yang berpasangan dengan Irwandi Yusuf. Periode jabatannya pada 2007-2012

Muhammad Nazar menempuh pendidikan di IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh (1997) dan Program non-gelar Sarjana Purna Ulama IAIN Ar-Raniry (1998). Periode 1997-1999, ia tampil sebagai Staf Pengajar dan Staf Keuangan Lembaga Bahasa dan Pengembangan Tenaga Pengajar IAIN Ar-Raniry. Pada 1998-1999, ia mendirikan dan mengurus Angkatan Intelektual Muda Darussalam. Pada tahun 1998, ia menjabat Ketua I Dewan Pimpinan Wilayah Aceh Pemuda Bulan Bintang dan Pengurus Dewan Presidium Fokus Gampi (1999-2000). Ia juga menjabat Ketua Dewan Presidium Sentral Informasi Referendum Aceh (1999).

Ia masuk penjara gara-gara memobilisasi ratusan ribu orang Aceh menuntut referendum pada 8 November 1999. Dia bebas pada 2002 ketika darurat militer Aceh digelar. Sebagai tahanan politik, pada 31 Agustus 2005, ia bebas. Ini merupakan buah dari implementasi perjanjian Helsinki. Bersama pasangan calon gubernur, ia memperoleh nomor urut 6. Nomor ini kemudian menghiasi poster-poster bergambar wajah kedua calon yang independen ini.

******
Sumber : http://www.acehprov.go.id/
Wikipedia

20 Jul 2011

Sultan Alaidin Pendiri Kesultanan Peureulak

Oleh : Iskandar Ishak
Kerajaan Peuereulak adalah kerajaan yang telah mempunyai Tamaddun atau kebudayaan yang tinggi seperti adanya angakatan perang. Kerajaan ini oleh Sultan Alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah.

Pada tahun 30 Hijriah atau 651 Masehi, Khalifah Usman Bin Affan mengirim delegasi ke Negeri Cina. Delegasi tersebut lalu singah di Aceh sambil memperkenalkan agama Islam. Sejak itu para pelaut dan para pedagang muslim terus berdatangan, kemudian mereka membeli hasil bumi sambil berdakwah. Lalu lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk agama Islam.

Kesultanan Peureulak merupakan kerajaan Islam pertama di nusantara bahkan di Asia Tenggara. Kerajaan ini berkuasa pada tahun 840 hingga 1292 Masehi, kini daerah tersebut masuk dalam wilayah Aceh Timur Provinsi Aceh.

Peureulak merupakan suatu Daerah penghasil kayu Peureulak, yaitu kayu yang terkenal sebagai bahan dasar pembuatan kapal. Akibat Peureulak dalam posisi strategis dengan hasil alamnya yang melimpah membuat Peureulak berkembang sebagai pelabuhan niaga yang maju pada abad VIII hingga Abad XII. Dengan demikian, Peureulak berkembang dan sering disinggahi oleh kapal-kapal dari Arab, Persia, Gujarat, Malaka, Cina serta seluruh kepulauan Nusantara.

Pendiri kesultanan Peureulak adalah, Sultan Aliadin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah, yang merupakan keturunan pendakwah dari Arab. Kerajaan Peureulak didirikan pada tanggal 1 Muharam 225 Hijriyah/840 Masehi, saat itu kerajaan Mataram Hindu di pulau Jawa masih berjaya.

Sultan Aliadin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah adalah Putra dari Sayed Ali Al-Muktabar turunan arab dan Puteri Makhdum Tansyuri dari kerajaan Peureulak. Selanjutnya terus menerus Genarasi Disnati Sayed Maulana Abdul Aziz syah memerintah kereajaan Peureulak (225-248) Hijriyah atau (840-864) Masehi.

Sultan Aliadin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah dan isterinya Putri Meurah Mahdum Khudawi keduanya merupakan pendiri kerajaan islam pertama diasia Tenggara. Beliu berkuasa 1 Muharram 225 Hijriyah sampai denganm 249 Hijriyah sama dengan 840-864 Masehi. Kemudian beliu wafat di Gampong Bandar Khalifah, Bandrong, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur Provinsi Aceh. Pada saat kejayaan Hindu, langkah pertama yang dilakukan oleh Sultan Alaidin adalah mengubah nama Bandar Peureulak Menjadi Bandar Khalifah.

Kemudian pada tahun 956 Masehi/362 Hijriyah, terjadi ketegangan politik antara golongan Sunni dan golongan Syiah, tetapi diakhiri dengan perdaiman sehingga kerajaan Peureulak pcah menjadi dua kerajaan. Yang pertama adalah Kerajaan Peureulak Pesisir (Syiah-red) yang dipimpin oleh Sultan alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah (986-988) Masehi. Kemudian yang kedua adalah Kerajaan Peureulak Pedalaman (Sunni-red) yang dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (986-1023) Masehi.

Kemudian pada tahun 988 Masehi, kerajaan Buhda Sriwijaya menyerang kerajaan Peureulak. Dalam pertempuran tersebut Sultan Alaidin Sayed maulana Abdul Aziz Syah meninggal dunia.

Hikmah dibalik serangan kerajaan Budha Sriwijaya tersebut, Peureulak bersatu kembali dibawah pimpinan Sultan Makhdum Alaiddin Malki Ibrahim Syah Johan Berdaulat. Dan peperangan melawan kerajaan Budha Sriwijaya berlanjut hingga tahun 1006 Masehi.

Kerajaan Peuereulak adalah kerajaan yang telah mempunyai Tamaddun atau kebudayaan yang tinggi seperti adanya angakatan perang kerajaan, hubungan diplomatic luar negeri, kemakmuran ekonomi dan dengan adanya pusat ilmu pengetahuan yaitu Dayah atau Zawiyah Cot Kala.

Kemudian dunia internasional mendukung peureulak sebagai daerah pertama masuknya Islam ke Asia Tenggara, yang diwacanakan dalam bentuk pembangunan Monumen Islam Asia Tenggara (Monisa). Setelah Kerajaan Peureulak mengalami kemunduran maka pada wal abad ke-13 diujung Sumatera berdiri kerajaan Islam baru bernama Samudera Pasai dibawah Pimpinan Sulthan Malikus Saleh.

Dengan berdirinya kerajaan Islam baru bernama Samudera Pasai di bawah Pimpinan Sulthan Malikus Saleh tersebut makanya Samudera Pasai sering disebut dengan Madinah. Sementara orang-orang menyebut Kerajaan Peureulak adalah Mekkah, tempat berdirinya Islam.

Berawal dari Pho He la

Asal mula nama Peurelak diriwayatkan berasal dari nama pohon “Kayee Peureulak”. Jenis kayu dari pohon ini digunakan untuk pembuatan kapal/perahu. Karena banyaknya orang yang membutuhkan kayu tersebut untuk pembuatan kapal, maka nama Peureulak tersiar sampai keluar daerah itu. Orang menyebut daerah itu dengan sebutan Negeri Peureulak.

Para pelawat/pengembara dari manca negara pun singgah ke pelabuhan di daerah Kayee Peureulak. Dinamaialah pelabuhan itu sebagai Bandar Peureulak. Sejak itu Negeri Peureulak jadi terkenal, meski sistim pemerintahannya masih sangat sederhana, pada waktu itu Peureulak diperintah secara turun temurun oleh raja bergelah Meurah.

Sebelum Zaman Islam, semasih jaya-jayanya Kemaharajaan Parsia di bawah pimpinan para “Kisra” dari Dinasti Sassanid, seorang putera dari Istana Sassanid yang bernama “Pangeran Salman” meninggalkan tanah airnya menuju benua timur, mengikuti sebuah kapal-layar bersama para pedagang yang pergi berniaga ke Asia Tenggara dan Timur Jauh.

Kapal-layar yang membawa para pedagang Parsia dan Pangeran Salman, waktu melayari Selat malaka singgah di Bandar Jeumpa (Bireuen), dan setelah kapal tersebut berlayar kembali menuju Timur Jauh, ternyata Pangeran Salman tidak ikut lagi, dia tinggal di Negeri Jeumpa, mungkin sekali hati pangeran yang putih kuning dan tinggi semampai itu telah terpaut pada seorang dara dari Istana Jeumpa.

Hal itu menjadi kenyataan, setelah beberapa bulan kemudian Pangeran Salman telah diambil menjadi menantu oleh Meurah Negeri Jeumpa. Salman di kawinkan dengan puteri Istana Jeumpa yang berkulit “sawo matang” bernama Mayang Seludang.

Negeri Peureulak yang kaya dengan “kayei Peureulaknya” telah menarik Pangeran Salman bersama istrinya untuk merantau ke negeri yang terletak di sebelah timur Jeumpa itu. Dengan seizing mertuanya “Meurah Jeumpa”, Pangeran Salman dan isterinya Puteri Mayang Seludang berangkatlah ke Negeri Pereulak lak dengan sebuah perahu kepunyaan Negeri Jeumpa dengan diantar beberapa perahu lainnya, mungkin sekali Pengeran dari Parsia itu membawa juga sebuah surat pengenalan dari Meurah Jeumpa (mertuanya) kapada Meurah Negeri Peureulak.

Kedatangan Pangeran Salman dan istrerinya di Negeri Peureulak diterima dengan sambutan yang sangat baik sekali, bukan saja oleh rakyat Peureulak, bahkan juga oleh Meurah Peureulak dan para pembesar negeri lainnya. Hail ini, karena telah diketahui lebih dahulu bahwa Pangeran Salman adalah turunan dari Dinasti Sassanit yang memerintah kemaharajaan Parsia, sedangkan isterinya Puteri Mayang Seludang adalah puteri dari Meurah yang memerintah Negeri Jeumpa yang terletak desebelah barat Peureulak.

Bandar Peureulak yang ramai di singgahi kapal-kapal dagang yang datang dari timur dari barat, memikat hati Pengeran Salman dan isterinya, sehingga mereka mengambil keputusan untuk menetap di Bandar Peureulak, keputusan itu disambut gembira oleh Meurah dan rakyat Peureulak.

Ketika raja Peureulak mangkat, ia tidak punya putra sebagai penggantinya, maka rakyat Peureulak mengangkat Pengeran Salman sebagai Raja Peureulak yang baru. Setelah berada di bawah pimpinan Pangeran Salman, Negeri Peureulak bertambah maju dan para pedagang dari Parsia bertambah banyak datang serta mengadu untung di Bandar Peureulak yang tambah ramai.

Pangeran Salman yang telah menjadi Meurah Peureulak, mendapat empat orang putera dari isterinya Puteri Mayang Seludang yaitu, Syahir Nuwi, yang kemudian menggantikan ayahnya menjadi Meurah Peureulak. Syahir Tanwi (Puri), yang kemudian merantau ke negeri ibunya, Negeri Jeumpa, dan diangkat menjadi Meurah Negeri Jeumpa menggantikan kakeknya yang telah meninggal.

Syahir Puli, yang merantau jauh ke barat, dan di tempat tersebut dia diangkat oleh rakyat menjadi di daerah Pidie. Satu lagi Syahir Duli, yang setelah dewasa merantau ke barat paling ujung, dan karena kecakapannya maka di sana diangkat oleh rakyat menjadi Meurah Negeri Indra Purba (Aceh Besar sekarang).

Tapi riwayat lainnya, berdasarkan catatan lama Abu Ishaq Makarani Pase, dalam Risalah Idharul-Haq fi Mamlaka Peureulak, menggambarkan Peureulak sebagai bandar, pusat perdagangan yang sangat ramai pada tahun 173 Hijriah, atau tahun 800 Masehi. Karena itu pula Peureulak disebut sebagai salah satu kota peradaban tertua di Aceh.

Pada tahun tersebut, datang ke Peureulak sebuah rombongan pedagang, yang dipimpin oleh nakhoda Khalifah. Mereka merupakan saudagar-saudagar Arab, Persia dan India muslim. Mereka datang ke bandar Peureulak untuk membeli lada, salasari, dan berbagai rempah-rempah lainnya.

Setelah tiga bulan mengumpul rempah-rempah, mereka kemudian kembali ke negerinya. Tapi tak lama kemudian, saudagar-saudagar dari negeri Arab lainnya datang, setelah mengetahui asal barang yang dijual oleh nakhoda Khalifah dan rombongannya. Maka sejak itu pula Bandar Khalifah menjadi terkenal.

Seiring dengan itu pula, para pendatang dari Arab tersebut menyebarkan agama Islam di Peureulak. Islam semakin cepat berkembang, apalagi setelah Islam diterima oleh raja Peureulak. “Dua ratus dua puluh lima tahun, pada hari selasa, maka naiklah raja Sultan Marhum Alaiddin Maulana Abdul Aziz Syah Zillullah Fil Alam. Dan adalah lama dalam tahta kerajaan dua puluh empat tahun, maka ia pun meninggal pada hari Ahad, dua hari bulan Muharram pada waktu zuhur intaha kalam,” tulis Abu Ishaq Makarani Pase dalam risalah tersebut.

Untuk mengenang nakhoda Khalifah yang telah membuat bandar Peureulak terkenal sampai ke negeri Arab, maka ibu kota negeri pemerintahan Islam di Peureulak dinamai Bandar Khalifah.

Kisah lain menyebutkan pembuka pertama negeri Peureulak pada masa lalu, yang bernama maharaja Pho He La Syahril Nuwi. Mungkin nama Po He La pula yang menjadi asal-usul nama Peureulak. Sultan pertama yang dipilih oleh golongan ahlus sunnah wal jamaah di negeri Peureulak adalah Meurah Abdul Qadir Syah yang bergelar Sultan Machdum Ala’ldin Malik Abdul Qadir Syah Johan Berdaulat Zillull-lah Fil Alam.[]

Para Sulthan Kerajaan Peureulak

Sulthan Aliaddin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah (225-249 H)
Sulthan Alaiddin Maulana Abdurrahi Syah (249-258H)
Sulthan Sayed Maulana Abbas Syah (258-300 H)
Sulthan Alaiddin Sayed Maulana Ali Mughayat Syah (302-305 H)
Sulthan Maakhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Syah Johan Berdaulat (306-310 H)
Sulthan Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (310-334 H)
Sulthan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Johan Berdaulat (334-361 H)
Sultahan Sayed maulana Mahmud Syah (365-377 H)
Sulthan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (377-402 M)
Sulthan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat (402-450 H)
Sulthan Makhdum Alaiddin Malik Mansyur Syah Johan Berdaulat (450-470 H)
Sulthan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Syah Johan Berdaulat (470-501 H)
Sulthan Makhdum Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat (501-527 H)
Sulthan Makhdum Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat (527-552 H),
Sulthan Makhdum Alaiddin Malik Usman Syah Johan Berdaulat (552-565 H)
Syah Johan Berdaulat Malik Mahammad Syah Johan Berdaulat (565-592 H)
Sulthan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Syah Johan Berdaulat (592-622 H)
Sulthan Makhdum Malik Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (622-662 H)
Sulthan Makhdum Aliaddin Malik Abdul Aziz Syah Johan Berdaulat (662-692 H)




***************
Sumber : Fokus Harian Aceh

19 Jul 2011

Resep TIMPHAN; kue khas Aceh

Untuk : 15 Porsi (1 porsi = 114 kalori)

Bahan :


200 gr tepung ketan
2 sdm santan kental
1 sdm air kapur sirih
1/4 sdt garam
250 gr pisang raja dihaluskan
Daun pisang muda

Isi :

2 butir telur ayam
50 ml santan kental
100 gr gula pasir
25 gr nangka masak cincang kecil
1/2 sdt tepung terigu
1 lembar daun pandan
50 gr kelapa muda parut halus
1/4 sdt vanili

Cara membuat :

Aduk tepung ketan dan pisang yang sudah dihaluskan serta santan, air kapur, dan garam hingga tercampur rata. Adonan ini digunakan untuk kulit.
Ambil daun pisang olesi dengan minyak lalu tipiskan adonan kulit, beri adonan isi kemudian digulung, dibungkus seperti lontong kecil, kukus hingga matang selama + 10 menit.
Buat adonan isi : Kocok telur dan gula hingga kental dengan mixer, masukkan tepung terigu dan santan, aduk rata, tambahkan nangka dan kelapa muda, beri daun pandan, masak sampai kental, angkat, beri vanili, aduk rata. Setelah matang dinginkan dan gunakan sebagai isi timphan.





*************
Sumber : http://candellite.multiply.com/journal/item/2
Foto : apaaceh.blogspot.com

18 Jul 2011

Merawat Benteng Indrapatra, Mengekalkan Sejarah Aceh

Benteng merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, intrik dan heroism orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, jalan Krueng Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Kr Raya.

Sebagai situs bersejarah, keberadaan Benteng Indra Patra tentu perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, pengambilan material oleh masyarakat akan membuat bagian-bagian benteng runtuh perlahan-lahan. Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dari segi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.

Untuk menyelamatkan situs bersejarah itulah, Aceh Heritage Community (AHC) bekerja sama dengan Pusat Dokumentasi Arsitektur Jakarta (PDAJ), mengadakan survei Benteng Indra Patra, 20-21 Desember. Dua orang dari PDAJ yaitu Kemal, seorang arsitek, dan Ivan, seorang arkeolog, menemani 10 orang dari AHC.

Benteng ini berukuran besar dan berkonstruksi kokoh, berarsitektur unik, terbuat dari beton kapur. Saat ini jumlah benteng yang tersisa hanya dua, itu pun pintu bentengnya telah hancur terkena tsunami. Pada awalnya ada tiga bagian besar benteng yang tersisa. Benteng yang paling besar berukuran 70 x 70 meter dengan ketinggian 3 meter lebih. Ada sebuah ruangan yang besar dan kokoh berukuran 35 x 35 meter dan tinggi 4 meter. Rancangan bangunannya terlihat begitu istimewa dan canggih, sesuai pada masanya karena untuk mencapai bagian dalam benteng, harus dilalui dengan memanjat terlebih dahulu.

Tim bergerak menyusuri sudut demi sudut, mencatat fisik bangunan yang mereka lihat. Mereka mencatat mulai dari warna bebatuan, model menara yang ada, berapa banyak lubang bidik untuk meriam yang masih utuh, apakah ada ruang bawah tanah dan banyak lagi hal lainnya. Anggota AHC membuat sketsa benteng Indra Patra untuk mencatat bentuk asli bangunan.

Ivan, arkeolog asal Jakarta mengatakan banyak benteng-benteng di Indonesia yang mengalami kerusakan parah. Pemerintah daerah setempat tidak peduli dengan keberadaan benteng. Kalau pun ada renovasi, banyak perbaikan yang dilakukan tidak sesuai dengan kaidah bangunan bersejarah. "Saya pernah menemukan benteng tua di Maluku yang diplester dengan dinding semen. Itu merusak keaslian benteng, mana ada semen zaman dahulu" katanya. Padahal turis ataupun pengunjung sangat menyukai keaslian bangunan sejarah.

Ketua AHC, Yenni Rahmayanti menambahkan renovasi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh melakukan renovasi benteng Indra Patra tidak sesuai dengan kaidah. Renovasi yang dilakukan sedikit banyak mengubah keasliannya. "Harusnya situs sejarah ini mendapat perhatian dari Balai Pelestarian Sejarah, tapi sepertinya tidak" ujarnya.


Memang jika kita perhatikan, sebagai contoh papan informasi penunjuk sejarah tidak ada di tempelkan. Ada juga hal lain yang menyedihkan terkait dengan keberadaan benteng. Banyak masyarakat sekitar mengambil batu-batuan benteng untuk keperluan membuat rumah bahkan ada yang mendirikan pondasi di atas reruntuhan benteng.

Survei Benteng Indra Patra bukan saja mencatat fisik bangunan tetapi juga mengumpulkan kisah-kisah sejarah seputar benteng. Tim melakukan studi pustaka dan wawancara dengan masyarakat sekitar untuk menggali cerita-cerita seputar Benteng Indra Patra. "Yang paling menarik dari bangunan sejarah adalah cerita seputar situs tersebut, ini yang paling menarik minat pengunjung" katanya.


Benteng Indra Patra dibangun oleh Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu pertama di Aceh (Indra Patra) pada masa sebelum kedatangan Islam di Aceh, yaitu pada abad ke tujuh Masehi. Benteng ini dibangun dalam posisi yang cukup strategis karena berhadapan langsung dengan Selat Malaka, sehingga berfungsi sebagai benteng pertahanan dari serangan armada Portugis. Pada masa Sultan Iskandar Muda, dengan armada lautnya yang kuat dibawah pimpinan Laksamana Malahayati, sebagai laksamana wanita pertama di dunia, benteng ini digunakan sebagai pertahanan kerajaan Aceh Darussalam.

Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayak benteng Indra Patra di rawat dan dilestarikan. Jangan sampai nanti orang-orang hanya bisa berkata sambil menunjuk ke arah reruntuhan "Itu batu-batuan bekas apa ya?"





***********
Sumber : Liburan.info

17 Jul 2011

Geliat Saudagar Aceh Tempo Doeloe


Oleh : Iskandar Norman

Pada awal masa kemerdekaan sudagar Aceh telah berperan banyak dalam menopang Republik Indonesia yang baru lahir. Namun mereka kemudian diabaikan.


Para saudagar Aceh sering menerobos blokade angkatan laut Belanda untuk menyeludupkan barang dagangan ke Semenanjung Malaysia. Ketika kontak dengan Jakarta tersedat, Residen Aceh mengeluarkan mata uang sendiri, meski kemudian hak para saudagar Aceh itu diabaikan. Hutang mereka ditolak pembayarannya oleh pemerintah.

Sebuah kisah perjudian nasib dilakoni para saudagar Aceh. Untuk bisa menjual karet, getah dan komoditas lainnya ke Malaysia dan Singapura, para eksportir asal Aceh mesti bertarung di lautan dengan angkatan laut Belanda di Selat Malaka.

Penjualan barang ke Malaysia dan Singapura untuk mendanai republik tersebut, lebih tepatnya disebut sebagai penyeludupan. Setiap saat kapal yang membawa barang ke negeri jiran itu, harus mengelabui armada angkatan laut Belanda yang berpatroli di Selat Malaka.

Salah satu yang sangat fenomenal adalah usaha penyeludupan karet pengusaha asal Aceh oleh Jhon Lie, warga Indonesia keturunan Cina asal Menado ini mendapat perintah dari Menteri Pertahanan RI, Mr Ali Budiardjo untuk menjual kareta asal Aceh ke Semenanjung Malaysia. Hasil penjualan karet milik saudagar Aceh itu digunakan untuk membiayai perjalanan keliling dunia Menteri Luar Negeri RI, H Agus Salim.

Beberapa saudagar Aceh yang memainkan peranan dalam kontak dagang dengan negeri jiran itu antara lain, Muhammad Saman dari PT Puspa, Nyak Neh dari Lho’ Nga Co, Muhammad Hasan dari Perdagangan Indonesia Muda (PIM) dan Abdul Gani dari Mutiara.

Barang-barang seludupan saudagar Aceh tersebut dikoordinir oleh Oesman Adamy dan diseludupkan oleh Jhon Lie. Sampai di Semenanjung Malaysia barang-barang tersebut ditampung oleh pengusaha asal Aceh, diantaranya Teuku Makam, Ja’far Hanafiah, dan Ali Basyah Tawi.

Dalam perniagaan tersebut, awalnya menggunakan alat tukar uang Republik Indonesia. Tapi karena faktor keamanan yang semakin memburuk, maka daerah keresidenan Aceh mengeluarkan mata uang sendiri. Saat dimasukkan menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Utara pada tahun 1948 juga mengeluarkan uang kertas sendiri.

Untuk menopang perekonomian, serta sebagai alat transaksi, selama tujuh hari saja, 2 sampai 8 Mei 1949, dicetak uang rupiah oripsui sebayak 156.750.000 yang terdiri atas 405.000 lembar Rupiah Oripsu 250, dan 111.000 lembar Rupiah Oripsu 500.

Adalah Abdul Muid, pegawai keuangan yang bertanggungjawab atas percetakan dan pengedaran uang oripsu tersebut. Selain itu ia juga bertugas mempertahankan nilai banding uang oripsu dengan dolar Singapura.

Namun keseimbangan antara uang Oripsu dengan Dolar Singapura tidak dapat dipertahankan. Akhirnya pada 16 Mei 1949, dikeluarkanlah ketetapan GSO nomor 302/RI tentang penetapan penarikan uang Oripsu sebnayak 500.000.000. Kondisi ini semakin diperparah dengan naiknya harga barang setiap hari. Berkurangnya impor barang yang diperlukan. Akibatnya biaya hidup semakin meningkat.

Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah mengambil beberapa tindakan, diantaranya pembentukan suatu badan penyehatan yang diketuai oleh M Nur El Ibrahimi. Tugas badan ini mempertinggi produksi barang dalam negeri dan impor barang yang dibutuhkan dari luar negeri.

Larangan Ekspor


Namun nasib para eksportir Aceh yang menyokong pembiayaan republik tersebut akhirnya terpuruk, karena pada 22 September 1949, Syarifuddin Prawira Negara mengeluarkan Peraturan Wakil Perdana Menteri nomor 2/1949/WPM, yang isinya melarang adanya aktivitas ekspor barang dari daerah Sumatera Utara.

Kondisi ini semakin diperparah lagi dengan dikeluarkannya Peraturan Wakil Perdana Mentreri tanggal 17 Oktober 1949 nomor 1/1949/WPM, yang mencabut ketetapan Komisaris Pemerintah Pusat Sumatera, tanggal 14 Agustus 1948 nomor 7, yang mengatur soal pengutipan bea ekspor dan perhitungan dolar untuk hasil bumi.

Kebijaksanaan yang diambil oleh Wakil Perdana Menteri tersebut bertentangan dengan kebijakan sebelumnya yang diambil oleh pemerintah daerah soal ekspor impor barang dari dan ke Semenanjung Malaysia.

Lebih ironis lagi, para saudagar Aceh yang melakukan kontak dagang pengusaha di Semenanjung Malaysia, setelah Indonesia benar-benar merdeka tidak memperoleh perlakuan yang wajar dari pemerintah. Hutan getah yang masih harus diperoleh dari pemerintah atas dasar perjanjian jual beli, ditolak pembayarannya.

Hanya Muhammad Saman yang berhasil memperoleh haknya setelah menggugat pemerintah ke pengadilan. Sementara Abdul Gani Mutiara, Nyak Neh, dan Muhammad Hasan tidak memperoleh pembayaran hutang dari negara. Hak mereka atas perjanjian jual beli ditolak pembayarannya. Untuk memperoleh haknya, para saudagar itu pun menuntut pemerintah ke pengadilan, tapi gagal.

Pengadilan Negeri Jakarta Raya, melalui putusan nomor 335/1952 g, tanggal 13 Juli 1965, menolak tuntutan Nyak Neh dengan alasan gubernur mempunyai kedudukan istimewa, tidak dapat dituntut ke muka hakim. Alasan lainnya, tuntutan tersebut akan menjatuhkan wibawa gubernur selaku wakil pemerintah pusat di Aceh.

Nyak Neh kemudian melakukan banding ke Pengadilan Tinggi, Jakarta, namun lagi-lagi kandas. Melalui putusan nomor 212/1966 PT perdata tanggal 31 Oktober 1966, Pengadilan Tinggi Jakarta dalam amar putusannya menolak upaya banding tersebut.

Namun Nyak Neh tidak berhenti sampai disitu, ia pun mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Namum Mahkamah Agung dalam putusannya 5 Februari 1969 Reg No 10 K/Sip/1968, menolak kasasi tersebut. Lagi-lagi pemerintah berkelit untuk membayar hutangnya pada para saudagar Aceh.

Markam dan Monas


Nasib saudagar Aceh lainnya yang paling miris dialami Teuku Markam, penyumbang 28 kilogram emas dari 38 kilo emas yang dipasang di puncak tugu Monumen Nasional (Monas). Markam juga ikut membebaskan lahan di Senanyan untuk dijadikan pusat olah raga terbesar di Indonesia.

Pada masanya, ia memiliki sejumlah kapal dan dok kapal di Jakarta, Makasar, Medan dan Palembang. Ia juga eksportir pertama mobil Toyota Hardtop dari Jepang, eksportir plat baja, besi beton, sampai senjata untuk militer. Namun, pada masa orde baru, ia disingkirkan. Ia ditahan delapan tahun penjara atas tuduhan terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI) dan meninggal pada tahun 1985.

Konggres Saudagar Aceh

Untuk membangkitkan kembali gairah ekpor barang dari Aceh, pada 28 Juli 2007 lalu dilaksanakan Konggres Saudagar Aceh Serantau (KSAS). Hal itu juga bertujuan untuk mendorong percepatan ekonomi Aceh pascakonflik dan tsunami.

Tak tanggung-tanggung 300 saudagar Aceh dari senatero dunia berkumpul di Banda Aceh. Melalui konggres itu mereka ingin menggaet investor luar untuk masuk ke Aceh.

Pertemuan para saudagar Aceh tersebut bertujuan untuk menggairahkan kembali dunia usaha Aceh yang terpuruk akibat konflik berkepanjangan plus musibah maha dahsyat pada akhir tahun 2004 lalu. Selain itu, konggres tersebut juga diharapkan dapat merangsang investasi masuk ke Aceh.

Sebagai pembicara dalam acara tersebut hadirkan dari kalangan pengusaha sukses, birokrat dan pengamat ekonomi, diantaranya: Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, pengusaha sukses asal Aceh seperti: Abdul Latif (Pasar Raya Group), Ibrahim Risyad (kolongmerat), Surya Paloh (Media Group), H Nur Nikmat dan Said Umar (Kodel Group), Datok Tan Sri Sanusi Juned dari Malaysia, serta beberapa tokoh Aceh lainnya.

Bukan itu saja, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Pemerintah Aceh juga berupaya mendatangkan investor dari luar negeri. Seperti pada Sabtu, 25 Mei 2007 lalu, Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Gubernur Jeju, Korea Selatan. Kerjasama yang dijalin meliputi bidang pengembangan ekonomi, listrik, air, serta pemamfaatan tekhnologi untuk mempercepat pembangunan di Aceh.

Namun sayangnya, hingga kini, tak banyak saudagar yang benar-benar menanamkan investasinya di Aceh. penyebabnya, selain faktor politik, juga kesiaoan daerah yang dinilai belum memadai. Daintarnya adalah persoalan listrik dan birokrasi yang panjang. Walhasil, sampai sekarang, saudagar-saudagar asal Aceh lebih banyak berkecimpung di luar daerah, tinimbang berinvestasi di tanah leluhurnya.



************
Sumber : HARIAN ACEH

16 Jul 2011

Review; sejarah singkat kota Banda Aceh

Kota Banda Aceh adalah salah satu kota sekaligus ibu kota Aceh, Indonesia. Dahulu kota ini bernama Kutaraja, kemudian sejak 28 Desember 1962 namanya diganti menjadi Banda Aceh. Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh menjadi pusat segala kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya.


Sejarah

Kota yang telah berumur 802 tahun ini - berdasarkan Peraturan Daerah Aceh Nomor 5 Tahun 1988, tanggal 22 April 1205 ditetapkan sebagai tanggal keberadaan kota tersebut. Cheng Ho pernah singgah di Banda Aceh dalam ekspedisi pertamanya setelah singgah di Palembang.

Pada tanggal 26 Desember 2004, kota ini dilanda gelombang pasang tsunami yang diakibatkan oleh gempa 9,2 Skala Richter di Samudera Indonesia. Bencana ini menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini. Hingga kini belum diketahui berapa jumlah pasti penduduk Banda Aceh pasca tsunami.



Pemerintahan

Kota Banda Aceh terdiri dari 9 Kecamatan, 17 Mukim, 70 Desa dan 20 Kelurahan. Walikota Banda Aceh yang sekarang adalah Mawardi Nurdin. Ia terpilih dalam Pilkada pada 11 Desember 2006, yang berpasangan dengan Illiza Saaduddin Djamal (politisi Partai Persatuan Pembangunan). Sebelumnya, Mawardi yang merupakan Kepala Dinas Perkotaan dan Permukiman Kota Banda Aceh, juga pernah menjabat sebagai Pejabat Sementara (PjS) Walikota Banda Aceh yang dilantik Wakil Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Azwar Abubakar pada 8 Februari 2005. Pelantikan itu sesuai dengan keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 131.21/52/2005 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Walikota Banda Aceh. Mawardi Nurdin menjabat sebagai Walikota Banda Aceh setelah walikota sebelumnya Syarifudin Latief dipastikan meninggal dunia akibat bencana tsunami. Dalam surat keputusan itu juga disebutkan masa menjabat sebagai PjS Walikota Banda Aceh paling lama enam bulan sejak pelantikan.



**************
Sumber : facebook page; Kota Banda Aceh

15 Jul 2011

Wazir Rama Setia Kerajaan Aceh

oleh : Iskandar Norman

Wazir Rama Setia atau Sekretaris Kerajaan merupakan jabatan sangat penting dalam Kerjaan Aceh. Ia yang mengatur administrasi kerajaan. Jabatan itu terakhir dipegang oleh Said Abdullah Di Meulek.

Pada masa mudanya, Said Abdullah di Meulek sudah aktif dalam perpolitikan kerajaan Aceh. Pada masa Aceh dipimpin oleh Sulthan Sulaiman Alaiddin Ali Iskandar Syah (1251-1273 Hijriah = 1836-1857 Masehi) ia diperbantukan pada badan Wazir Badlul Muluk (Kementrian Luar Negeri).

Pada tahun 1271 Hijriah (1855 Masehi) ia menjadi anggota delegasi Aceh ke Padang untuk melakukan perundingan dengan Belanda, yang telah mencaplok wilayah Kerajaan Aceh di pesisir barat dan timur Sumatera. Pengalaman di kementrian luar negeri itu kemudian kemudian mengantarnya menjadi salah seorang mentri di kerajaan Aceh.

Pada masa pemerintahan Sulthan Ibrahim Alaiddin Mansur Syah, ia diangkat menjadi Wazir Rama Setia Keurukon Kitabul Muluk (Menteri Sekretaris Negara). Jabatan itu dipegangnya hingga masa pemerintahan Sulthan Alaiddin Mahmud Syah (1286-1290 Hijriah = 1870-1874 Masehi). Kemudian pada masa perang Aceh melawan Belanda ia merangkap jabatan sebagai Wakil Panglima Besar Perang Aceh dengan pangkat Letnan Jendral.


Sebagai Sekretaris Kerajaan Aceh, Said Abdullah Di Meulek banyak menulis naskah-naskah penting dari Kerajaan Aceh. Naskah itu disimpan dalam Darul Asar (mesium) Kerajaan Aceh yang terletak di samping Mesjid Baiturrahim dalam Kraton Daruddunia. Mesium itu pada masa perang dengan Belanda dimusnahkan oleh Belanda bersamaan dengan diruntuhkannya istana kerajaan Aceh.

Said Abdullah Di Meulek merupakan keturunan dari Syarif Hasyim Jamalullail Di Meulek, yang merupakan sulthan Aceh pertama dari dinasti Syarif setelah menggantikan dinasti wanita (para sulthanah-red) yang memerintah di Kerjaaan Aceh.

Ali Hasjmy dalam “Peranan Islam dalam Perang Aceh” mengungkapkan, kekaknya Said Abdullah Di Meulek tersebut naik tahta menjadi sulthan Aceh melalui perebutan kekuasaan tanpa pertumpahan darah, pada Rabu 20 Rabiul Awal 1109 Hijriah (1699 Masehi).

Ia naik tahta mengantikan Sulthanan Aceh yang terakhir, Sri Ratu Kamalatsyah yang diturunkan dari jabatannya akibat perebutan kekuasaan yang dilakukan Syarif Hasyim. Setelah diangkat menjadi raja, Syarif Hasyim digelar Sulthan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamalulail. Ia memerintah sejak 1110 – 1113 Hijriah (1699-1702 Masehi).

Sebelumnya, Syarif Hasyim merupakan anggota delegasi Syarif Mekkah yang diutus ke Aceh pada zaman pemerintahan Sultanah Zakiatuddin Inayat Syah (1088-1098 Hijriah = 1678 -1688 Masehi). Ketika delegasi itu kembali ke Mekkah, Syarif Hasyim memilih untuk menetap di Aceh. Ia kemudian diangkat menjadi penasehat kerajaan, sampai pada masa Sultanah Kamalatsyah. Ia kemudian menjatuhkan ratu itu dari tampuk kekuasaan dengan alasan perempuan tidak boleh menajdi raja.

Pemerintahan Dinasti Syarif ini berlangsung hingga tahun 1139 Hijriah (1726 Masehi) dengan sulthan terakhir yang bergelar Shultan Syamsul Alam Wandi Teubeng yang memerintah hanya satu bulan.



*****************
Sumber : Blog Iskandar Norman

Terima Kasih sudah berkunjung! jangan lupa isi buku tamu ^_^ Alhamdulillah! berkat dukungan kawan-kawan pecinta blogger semua, Blog ini meraih JUARA 1 dalam lomba blog Visit Banda Aceh 2011 yang diadakan oleh DISBUDPAR provinsi Aceh